Keberadaan keturunan etnis Tionghoa telah lama eksis di bumi Majapahit. Sejak masa prakemerdekaan, Tahun Baru Imlek menjadi salah satu momen hari raya yang dirayakan dengan meriah di Mojokerto.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, di masa kolonial, kemeriahan terpusat di kampung Pecinan. Bahkan, di kawasan yang memang dihuni oleh keturunan Tionghoa ini telah terasa sejak sebelum pergantian Tahun Baru Imlek.
Di antaranya ditandai dengan pernak-pernik khas Negeri Tirai Bambu yang menghiasi kawasan perniagaan yang berada di Jalan Mojopahit, Kota Mojokerto. Sepekan sebelumnya, warga keturunan Tionghoa juga melaksanakan tradisi membersihkan rupang atau patung dewa di Kelenteng Hok Sian Kiong.
Sosok yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, sehari jelang hari H, pusat perdagangan mendadak sepi. Karena mulai siang hingga malam hari, warga keturunan Tionghoa mempersiapkan diri menyambut Imlek. ”Toko-toko di kawasan Pecinan hanya buka setengah hari,” ungkapnya.
Warga memasng hiasan lampu lampion di hampir semua sudut kompleks pertokoan tersebut. Bahkan, saat hari H Tahun Baru Tionghoa, tak ada aktivitas jual beli di sepanjang ruas jalan protokol ini.
”Karena Tahun Baru Imlek menjadi hari libur,” papar dia. Sosok yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, rangkaian perayaan Imlek diawali dengan ritus peribadatan di Kelenteng Hok Sian Kiong. Di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) yang berusia lebih dari dua abad ini, warga keturunan Tionghoa memanjatkan doa bersama seiring momen pergantian tahun baru. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah