Sesuai namanya, surat kabar ini dicetak dengan format majalah. Media yang lahir di Kota Surabaya ini berpindah kantor redaksi di kompleks kantor Bupati Mojokerto pasca meletusnya pertempuran 10 November. ”Majalah Bhakti pindah karena jatuhnya Kota Surabaya di tangan Belanda,” ungkap Ayuhanafiq.
Majalah Bhakti diterbitkan kali pertama terbit pada 17 Januari 1946 dari Mojokerto. Media massa yang dinaungi Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) memberikan warna bagi perjalanan pers di bumi Majapahit.
Karena tak lama setelahnya, lahir organisasi jurnalis pertama dengan bendera Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang lahir pada 9 Februari 1946. ”Dari kantor Bupati Mojokerto, Majalah Bhakti kemudian berpindah kentor ke Jalan Mojopahit,” ulasnya.
Meski mengorbit di masa revolusi, media cetak ini mampu berkibar. Hingga pada tahun 1947, majalah mingguan ini bertransformasi menjadi Harian Bakti yang cetak setiap hari. ”Harian Bakti juga mengemas informasi dan aktivitas sosial yang ada di Mojokerto,” jelas penulis buku Garis Depan Pertempuran, Lasykar Hizbullah 1945-1950 ini.
Selain itu, dalam beritanya juga memuat tentang perkembangan situasi perang revolusi dan pertempuran di Kota Surabaya. Sayangnya, pada Maret 1947, pasukan Belanda mampu menembus pertahanan dan kembali menduduki Mojokerto.
Kantor pemerintah daerah hingga dapur redaksi Harian Bakti tak luput dari target sasaran kolonial. Akibatnya, surat kabar tersebut terpaksa berhenti produksi. Seiring perkembangannya, media massa kembali hidup pasca berakhirnya revolusi kemerdekaan.
Tak hanya cetak dan radio, jenisnya juga makin beragam seiring perkembangan teknologi. Kini, masyarakat bisa mengakses produk jurnalistik dari televisi hingga media daring. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah