Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perjalanan Ludruk dari Masa ke Masa di Mojokerto, Bertransformasi Jadi Sarana Program Pemerintahan

Rizal Amrulloh • Kamis, 5 Februari 2026 | 07:20 WIB
KLANGENAN: Warga Kota Mojokerto menyesaki pentad ludruk berlakon Putra Sang Fajar yang ditampilkan grup Ludruk Karya Budaya yang digelar dalam rangka Bulan Bung Karno yang diprakarsai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Kota Mojokerto, Kamis (
KLANGENAN: Warga Kota Mojokerto menyesaki pentad ludruk berlakon Putra Sang Fajar yang ditampilkan grup Ludruk Karya Budaya yang digelar dalam rangka Bulan Bung Karno yang diprakarsai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Kota Mojokerto, Kamis (

MOJOKERTO RAYA - Ludruk kembali mengalami perkembangan yang dinamis setelah pergantian kekuasaan. Di masa Orde Baru, seni teater rakyat ini bertransformasi menjadi sarana penyampaian program pemerintah. 

Ayuhanafiq mengungkapkan, ludruk sempat mengalami masa suram setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September alias G30S PKI. Akibat gerakan pemberontakan di tahun 1965 ini menyebabkan penggung ludruk menjadi lengang. Termasuk di Mojokerto yang tak lagi terdapat jadwal pentas. ”Panggung ludruk yang sebelumnya ramai mendadak jadi sunyi,” tuturnya. 

SEDEKAH BUMI: Pentas ludruk yang dibawakan grup Karya Budaya digelar warga Dusun Ngarus, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto selepas panen raya, Sabtu (17/6).
SEDEKAH BUMI: Pentas ludruk yang dibawakan grup Karya Budaya digelar warga Dusun Ngarus, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto selepas panen raya, Sabtu (17/6).

Menurutnya, tak sedikit seniman ludruk yang diamankan, utamanya yang berhaluan dengan PKI. Kondisi tersebut membuat kelompok-kelompok ludruk terpaksa gulung tikar. Setelah masa transisi ke Orde Baru, panggung kesenian perlahan kembali menggeliat. Momentum ini sekaligus menjadi penanda transformasi ludruk yang tak lagi memiliki keterkaitan dengan partai politik tertentu. 

Hanya saja, ungkap Yuhan, dalam suguhan penampilannya diselipkan pesan terkait capaian dan program pemerintahan. ”Karena panggung ludruk juga menjadi sarana komunikasi pembangunan pemerintah,” tandasnya. Seiring berjalannya waktu, hingga kini ludruk masih eksis sebagai seni pertunjukan rakyat. Di Mojokerto lahir sejumlah kelompok ludruk, salah satunya Karya Budaya yang telah berdiri lebih dari setengah abad. (ram/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#ludruk jawa timur #ludruk mojokerto #kesenian ludruk