MOJOKERTO RAYA - Ludruk merupakan salah satu seni pertunjukan yang berkembang dari Jawa Timur (Jatim). Di Mojokerto, kesenian tradisional ini memiliki daya tarik tersendiri di hati masyarakat. Dalam perjalanannya, ludruk tak sekadar sebagai media hiburan, tetapi juga jadi media yang digunakan untuk panggung politik.
Setelah berakhirnya masa kolonial, ludruk mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sejumlah kelompok ludruk lahir di sejumlah wilayah Jatim, termasuk di Mojokerto. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, di masa awal kemerdekaan RI ludruk menjadi seni tradisonal yang banyak disukai masyarakat. Sehingga saat itu jamak ditemukan kelompok ludruk yang manggung keliling daerah. ”Ludruk digemari oleh masyarakat Mojokerto,” ulasnya.
Salah satu kelompok yang kerap tampil di Mojokerto adalah ludruk Trisno Enggal. Grup seni ini sering tampil di Gedung Brantas yang berada di belakang Pasar Kliwon, Kota Mojokerto. ”Gedung Brantas sering digunakan untuk seni pertunjukan dan olahraga,” paparnya.
Masa keemasan ludruk pimpinan Atmo Sugiyo atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Liem Ban Pauw ini terjadi di dekade awal 1960-an. Nama kelompok kesenian yang berpusat di Surabaya ini makin melambung setelah dipercaya tampil di Istana Negara.
Sosok yang akrab disapa Yuhan ini menyatakan, di masa Presiden Soekarno memang acap kali menggelar kesenian rakyat. Di antara kelompok ludruk ternama, Enggal Trisno dilirik karena ciri khas penampilannya. ”Trisno Enggal lebih banyak memberi porsi pada lawakan di atas panggung,” urainya.
Di masa Orde Lama, pemerintah melalui Kementerian Penerangan mengklasifikasikan ludruk dalam beberapa kategori. Kelompok Enggal Trisno masuk dalam kategori III yang mengutamakan suguhan humor. Sedangkan kategori II disematkan pada ludruk yang menonjolkan dekorasi panggung. Sedangkan ludruk yang mengedepankan pertunjukan teatrikal atau cerita drama tergolong dalam klasifikasi I.
Di samping sebagai pertunjukan seni tradisonal, ludruk kala itu juga memiliki keterkaitan dengan politik dan ideologi tertentu. ”Persaingan politik menyebabkan seni tradisional mendapatkan tempat khusus untuk menggaet massa,” ulas Yuhan.
Di antaranya ludruk Trisno Enggal yang dikenal mempunyai kedekatan dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Demikian dengan kelompok ludruk kawakan lainnya, seperti Marhaen yang berhaluan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sehingga dalam penampilan ludruk menyisipkan cerita rakyat yang bernuansa politis dan bermuatan ideologis. ”Ketenaran ludruk saat itu menjadi media yang efektif untuk menggaet massa, karena apa pun cerita yang ditampilkan di Gedung Brantas selalu dipadati oleh penonton,” tandasnya. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah