DUA tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan RI, pasukan Belanda melakukan agresi ke bekas wilayah jajahannya. Salah satunya kembali menduduki wilayah Mojokerto di tahun 1947.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pada Maret 1947 barisan pejuang membuat benteng pertahanan yang dipusatkan di wilayah Mojosari. Pertahanan berlapis ini didukung oleh pejuang lintas unsur, baik dari Laskar Hizbullah, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), hingga Barisan Buruh. ”Para pejuang memperkuat pertahanan karena tentara Belanda akan menginvasi Mojokerto melalui Mojosari,” ungkapnya.
Saat itu, pasukan kolonial telah menduduki wilayah Prambon, Sidoarjo, Gempol, dan Pasuruan. Sehingga para pejuang membentuk garis pertahanan di kedua wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto ini. ”Pejuang merusak akses jembatan untuk menghadang musuh masuk ke wilayah Mojokerto,” tandasnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, perusakan akses menyasar jembatan Ngrame yang merupakan jalur vital untuk melintasi Sungai Sadar. Namun, upaya sabotase tersebut rupanya tak mampu menghalau pergerakan pasukan Belanda.
Pasalnya, Belanda datang dengan kekuatan pasukan dan armada tempur yang terbilang memadai. Hingga akhirnya tentara kolonial mampu menyeberang Sungai Sadar dengan membangun akses jembatan darurat. ”Rombongan pasukan Belanda beserta kendaraan militer akhirnya mampu menembus pertahanan pejuang,” papar penulis buku Garis Depan Pertempuran, Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.
Dengan armada lapis baja, tank amfibi, hingga kendaraan taktis, tentara Belanda merangsek ke wilayah Kota Mojosari. Melihat besarnya jumlah dan kekuatan tempur kolonial, pasukan pejuang akhirnya mundur meninggalkan garis depan pertahanan.
Tak tanggung-tangung, dalam operasi ini melibatkan tak kurang sekitar 120 kendaraan militer. Dikatakan Yuhan, masing-masing armada juga dilengkapi dengan senjata mesin yang di belakangnya diikuti iring-iringan truk tentara. Tentara Belanda kemudian mengambil alih wilayah Mojosari. Selain menempatkan pasukan, kolonial juga melakukan penyisiran dan mengamankan sejumlah senjata milik pejuang. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah