Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bahan Bangunan Era Majapahit, Tanah Liat Jadi Pipa hingga Batu Bata

Martda Vadetya • Sabtu, 17 Januari 2026 | 06:30 WIB

TEKNOLOGI: Pipa kuno peninggalan Majapahit tersebut terbuat dari terakota yang dipajang di Pusat Informasi Majapahit di Trowulan. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
TEKNOLOGI: Pipa kuno peninggalan Majapahit tersebut terbuat dari terakota yang dipajang di Pusat Informasi Majapahit di Trowulan. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Bahan bangunan di era Kerajaan Majapahit kebanyakan berasal dari hasil olahan tanah liat. Material alami tersebut diproduksi menjadi berbagai komponen bangunan seperti pipa dan batu bata yang memiliki daya tahan hingga ratusan tahun. 

JEJAK konstruksi pada masa kerajaan 700 tahun silam itu terlacak dari sejumlah penemuan benda artefaktual. Di antaranya pipa terakota yang terkait dengan teknologi pengelolaan sumber daya air di ibu kota Majapahit, Wilwatikta. Komponen bangunan saluran air itu memiliki bahan tanah liat murni yang dikeraskan dengan cara dibakar.

’’Di zaman itu pipa-pipa itu menjadi sambungan antarkolam atau waduk, fungsinya sebagai saluran air yang tertanam di dalam tanah,’’ kata Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis. 

Berbentuk silinder, pipa yang ditemukan memiliki ukuran diameter sekitar 15 sentimeter (cm) dengan panjang kurang lebih 50 cm. Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menyimpan 20 pipa terakota hasil ekskavasi arsitek Hindia Belanda Henry Maclaine Pont pada periode 1924-1980. Benda cagar budaya itu ditemukan Henry saat menggali Trowulan yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit.

Selain menyambungkan kolam satu dengan lainnya, pipa-pipa itu juga digunakan petani Majapahit untuk membagi aliran air di sawah. Fungsi irigasi ini teridentifikasi melalui temuan dua bentuk pipa, yaitu lurus dan menyerupai huruf T dengan ujung melengkung.

MEGAH: Candi Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tersusun dari bata kuno yang kokoh.
MEGAH: Candi Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tersusun dari bata kuno yang kokoh.

’’Selama ini juga sudah banyak temuan saluran air kuno, meskipun terputus-putus, tapi menunjukkan kemajuan dan integrasi instalasi pengelolaan air di zaman itu,’’ tutur Anis. 

Menurutnya, kemahiran perajin Majapahit dalam mengolah tanah liat menjadi bahan bangunan juga terwujud dalam bentuk batu bata. Sama halnya dengan pipa, pembuatan bata dilakukan dengan membakar tanah liat yang sudah dicetak dengan api bersuhu ribuan derajat Celsius.

Hasilnya, bangunan candi, lantai, serta infrastruktur petirtaan yang masih bertahan sampai sekarang. ’’Hebatnya semua kontruksi itu bisa bertahan lama, masih banyak yang berdiri setelah ratusan tahun,’’ tutur pengacara senior asal Kota Mojokerto tersebut. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#trowulan majapahit #teknologi majapahit #mojosains #peninggalan majapahit