Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jelang Kekalahan Jepang di Mojokerto, Takiyari Jadi Senjata, Wajan Pengganti Helm

Rizal Amrulloh • Kamis, 8 Januari 2026 | 10:00 WIB

 

JADI TETENGER: Tugu bambu runcing yang menjadi senjata perjuangan rakyat di Kelurahan/Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
JADI TETENGER: Tugu bambu runcing yang menjadi senjata perjuangan rakyat di Kelurahan/Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
 

KABUPATEN - Pembuatan tempat perlindungan tersebut merupakan siasat Jepang dalam menyusun perang gerilya. Sehingga pasukan negeri Matahari Terbit ini juga membekali warga pribumi dengan ilmu kemiliteran. 

Dalam realisasinya, Jepang membentuk organisasi Jawa Hokokai. Melalui wadah ini, masyarakat lokal, terutama kalangan muda digembleng tentang ilmu militer. ”Jepang mengambil hati rakyat agar mau membantu mereka,” tutur Ayuhanafiq. 

Jepang menghimpun tenaga dari warga pribumi untuk membantu rencana perang gerilya melawan sekutu. Nippon menggandeng sejumlah organisasi pemuda yang kemudian disatukan ke dalam Fujinkai, organisasi semi-militer bentukan Jepang. Di samping itu, masyarakat umum juga dibujuk Jepang untuk membantu pertahanan. Warga diminta untuk menggunakan senjata dengan alat seadanya. 

Salah satunya dengan membuat bambu runcing. Senjata yang juga disebut takiyari ini diproduksi secara massal oleh masyarakat lokal. ”Penduduk diminta membuat takiyari sebanyak-banyaknya,” terang Yuhan.

Selain disiapkan untuk senjata, bambu runcing juga dipasang sebagai ranjau yang ditancapkan di tanah. Tujuannya, agar menghalau serbuan tentara musuh yang diterjunkan dari udara. 

Bahkan, sebut Yuhan, alat memasak yang terbuat dari logam juga dimanfaatkan sebagai alat pertahanan. Jepang memerintahkan penduduk menggunakan wajan sebagai pengganti helm baja jika ada serangan bom.

”Wajan dijadikan sebagai penutup lubang perlindungan dan melindungi kepala dari serpihan bom,” tandasnya. Namun, persiapan perang gerilya tersebut urung terlaksana. Pasalnya, Jepang kemudian menyatakan menyerah tanpa syarat setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada Agustus 1945. (ram/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#sejarah mojokerto #gua jepang #gua jepang di mojokerto