KABUPATEN - Menjelang kekalahannya dalam Perang Dunia II, pasukan Jepang mulai menyiapkan strategi bertahan. Di Mojokerto, upaya itu diwujudkan dengan membangun berbagai tempat perlindungan, salah satunya berupa gua-gua yang digali di lereng Gunung Welirang.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, persiapan pertahanan tersebut mulai dilakukan sejak pertengahan September 1944. Saat itu, Jepang menyadari kekuatan militernya kian melemah dan ancaman serangan sekutu semakin nyata. ’’Jepang kemudian menyiapkan rencana perlindungan,’’ ungkap pria yang akrab disapa Yuhan itu.
Menurut Yuhan, pasukan Jepang menggali tanah untuk membuat lubang-lubang yang difungsikan sebagai gua. Selain sebagai tempat berlindung, gua tersebut juga dimanfaatkan untuk menyimpan logistik, terutama bahan makanan. ’’Gua dibuat untuk menyimpan bahan makanan dan menunjang upaya bertahan pasukan Jepang,’’ jelasnya.
Gua-gua itu tersebar di sekitar lereng Gunung Welirang dan dijadikan lokasi persembunyian pasukan Nippon. Salah satu titiknya berada di wilayah Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, tepatnya di kawasan hutan raya yang kini dilintasi jalur alternatif Pacet-Cangar.
Tak hanya di kawasan hutan, Jepang juga membangun lubang perlindungan di area permukiman. Warga diminta menggali tanah di dekat rumah mereka untuk dijadikan bunker keluarga. ’’Lubang perlindungan dibuat dengan ukuran yang cukup menampung seluruh anggota keluarga,’’ imbuh penulis buku Revolusi di Pinggir Kali tersebut.
Bunker-bunker itu difungsikan sebagai tempat berlindung masyarakat dari serangan udara. Untuk mendukung sistem peringatan dini, Jepang juga memasang sirine yang dibunyikan saat terdeteksi ancaman serangan dari udara.
Jejak gua dan bunker yang masih tersisa hingga kini menjadi saksi bisu bagaimana Jepang berupaya mempertahankan diri di Mojokerto menjelang akhir pendudukannya, sebelum akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 1945. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah