PENGOBATAN tradisional menggunakan jamu sudah eksis sejak zaman Kerajaan Majapahit. Obat herbal itu diracik secara khusus oleh para ahli yang disebut dengan acaraki. Memanfaatkan berbagai bahan alam, acaraki membuat ramuan yang dapat menjaga kesehatan serta mengobati berbagai penyakit.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana menjelaskan, acaraki adalah salah satu profesi yang memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat Majapahit. Istilah acaraki sendiri dapat ditemukan dalam Prasasti Madhawapura. Acaraki berasal dari bahasa Jawa dan memiliki makna orang yang membuat atau mengolah jamu.
Sebagai ahli jamu, katanya, acaraki memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menciptakan ramuan berkhasiat. Jamu yang mereka hasilkan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. ’’Pengobatan tradisional dengan menggunakan jamu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pada zaman itu,’’ ujar dia.
Dalam membuat obat, acaraki mengolah akar, daun, buah, dan rempah dengan teknik tradisional. Selain jadi minuman jamu, bahan alami itu juga diracik menjadi ramuan oles untuk obat luar. ’’Acaraki memiliki pengetahuan dan keahlian khusus dalam mengolah rempah-rempah dan bahan alami lainnya menjadi ramuan obat yang efektif,’’ tutur Tommy.
Dalam kesehariannya, acaraki sering kali bekerja di istana atau keraton. Mereka melayani keluarga kerajaan dan bangsawan. Selain itu, sosok acaraki juga dapat ditemui di pasar tradisional atau tempat umum lainnya. ’’Mereka biasanya menjual jamu kepada masyarakat umum,’’ imbuhnya.
Tommy mengungkapkan, karena keahliannya sebagai tukang jamu, acaraki memiliki posisi yang terhormat di tengah masyarakat. ’’Sosok mereka dihormati karena diandalkan dalam menjaga kesehatan masyarakat pada masa itu,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah