SOOKO - Pembebasan lahan komplesk Situs Bhre Kahuripan tahap ketiga bakal segera digulirkan. Pemerintah Desa (Pemdes) Klinterejo, Kecamatan Sooko, bahkan mulai memasangi patok pada masing-masing bidang yang bakal diambilalih oleh negara.
’’Masing-masing lahan warga sudah kita (pemdes) pasang patok tanah hari ini (Selasa, 2/12). Nanti dari kantor pertanahan atau tim appraisal tinggal langsung survei lokasi saja,’’ ujar Kepala Desa Klinterejo Zainal Abidin, kemarin. Ia menjelaskan, nantinya pembebasan tahap lanjutan ini menyasar lahan seluas 1,2 hektare di timur situs peninggalan Majapahit ini. Sebanyak 10 bidang tanah tersebut milik 10 orang warga setempat.
Hal ini merupakan hasil koordinasi intens antara Pemdes Klinterejo dengan lewat Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Peralihan tanah menjadi milik negara ini, lanjut Abidin, demi kepentingan pelestarian cagar budaya berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi tersebut. ’’Rencananya (pembebasan lahan) dilaksanakan bulan (Desember) ini,’’ beber Abidin.
Praktis, tiga tahun berturut-turut negara melakukan pembebasan lahan di kompleks situs peninggalan Raja Hayam Wuruk ini. Meliputi tahun 2023, 2024 dan tahun ini. ’’Jadi pembebasan ini pakai anggaran BPKW tahun 2025. Kami terus sosialisasi agar warga paham dan ambil bagian dalam program pelestarian cagar budaya ini. Dan para pemilik lahan ini sepakat,’’ tukas Abidin.
Hal ini dibenarkan Kepala BPK Wilayah XI Endah Budi Heryani. Menurutnya, ini bagian dari langkah serius pemerintah dalam melestarikan cagar budaya tinggalan Majapahit. ’’Benar, di tahun ini kita membebaskan lahan (Situs Bhre Kahuripan) lagi,’’ terangnya, terpisah. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi