Bangunan rumah pada zaman Kerajaan Majapahit memiliki ornamen dengan berbagai bentuk. Dekorasi yang terbuat dari tanah liat tersebut terpasang di bagian dinding hingga atap.
Peninggalan berupa ornamen dari masa 700 tahun silam itu dapat ditemukan di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan. Di antaranya kemuncak, yang merupakan hiasan pada puncak atap bangunan. Kemuncak memiliki bentuk bervariasi, namun umumnya merujuk pada karakter spesifik. ”Ada yang berbentuk ayam jago, burung, padma, gunungan, garuda, dan bentuk kerucut,” jelas Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.
Selain kemuncak, masyarakat Majapahit juga mempercantik rumahnya dengan memasang bubungan di atap. Meski fungsi utamanya menjadi penutup antara satu sisi atap dengan sisi lainnya, bubungan memiliki bentuk yang indah. ”Bubungan bentuknya melengkung dan di bagian ujung biasanya berhias ukel atau sulur,” tuturnya.
Sama seperti kemuncak, bubungan dibuat dari tanah liat yang dibakar. Meski ukurannya cukup besar sehingga bisa terlihat dari kejauhan, terakota ini memiliki bobot ringan karena di pasang pada atap. Bahan tanah liat juga dipakai dalam pembuatan ornamen berupa ventilasi dinding. Lubang udara di masa Majapahit memiliki bentuk utama kotak dengan aneka motif sulur dan kawung. ”Fungsinya seperti ventilasi di masa sekarang, untuk sirkulasi udara. Tapi, ventilasi ini juga jadi hiasan karena bentuk-bentuknya yang atraktif,” tandas dia.
Tommy menyatakan, berbagai ornamen dengan aksesorinya itu menunjukkan kemajuan teknologi dan peradaban Majapahit. Tak hanya mementingkan fungsi bangunan sebagai tempat tinggal, masyarakat juga membuatnya sedemikian rupa agar nyaman serta memiliki nilai keindahan. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi