SEMENTARA itu, penemuan lima kerangka manusia di Situs Kumitir hingga kini masih menjadi misteri. Sebab sejak ditemukan dan dievakuasi tim ahli pada Oktober 2024, sampai sekarang asal usul tulang belulang tersebut masih buram.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir sekaligus arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M. Ichwan menuturkan, hal itu karena proses penelitian dan kajian masih terus berlangsung. Sehingga, pihaknya juga masih belum menerima perkembangan hasil penelusuran dan identifikasi kerangka mayat dari Tim Paleoantropologi FISIP Unair.
’’Memang prosesnya lama ya. Sampai sekarang kita juga masih belum tahu hasil analisisnya seperti apa. Nanti kalau sudah, kami pasti disurati,’’ jelasnya, kemarin. Lima kerangka manusia ini ditemukan tim arkeolog BPK Wilayah XI di sektor D saat menggelar ekskavasi tahap V Situs Kumitir pada 10 Oktober 2024.
Seluruhnya ditemukan dalam kondisi berjajar dengan kepala menghadap utara terpendam sekitar 50 cm dari permukaan. Jaraknya hanya sekitar 10 meter di barat makam umum Dusun Bendo, Desa Kumitir. Bahkan, satu dari lima tulang belulang tersebut berukuran anak-anak.
Penanganan ini melibatkan tim ahli Paleoantropologi FISIP Unair. Seluruh kerangka manusia yang masih lengkap tersebut langsung dievakuasi dan disimpan di Museum Kematian Unair untuk diteliti. Dimungkinkan, para peneliti melakukan uji carbon dating untuk menelusuri kapan kelima kerangka manusia tersebut dikubur. ’’Tidak disimpan di Museum Majapahit atau dikembalikan ke situs. Kami kerja sama dengan Unair, nantinya memang diletakkan dan dirawat di sana untuk kepentingan kajian-kajian akademis,’’ papar Ichwan.
Saat ini BPK Wilayah XI telah melakukan enam kali ekskavasi. Pada tahap VI ini, tim ekskavasi melakukan penggalian arkeologis kurun 16-23 Oktober. Selama delapan hari, tim arkeolog menyasar bentangan struktur talud sisi barat dan utara situs yang diyakini sebagai Istana Bhre Wengker ini. Hasilnya, menguatkan asumsi selama ini, yakni salah satu istana Kerajaan Majapahit seluas 6 hektare ini dikelilingi talud dari bata kuno. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi