Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Teknologi Pengolahan Logam Era Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 15:30 WIB

BUTUH KETELATENAN: Proses pembuatan patung kuningan menggunakan model lilin yang diisi adonan semen di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.
BUTUH KETELATENAN: Proses pembuatan patung kuningan menggunakan model lilin yang diisi adonan semen di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.
 

Dilestarikan Perajin Patung Trowulan

 KERAJINAN patung logam di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, memiliki teknik pembuatan yang mirip dengan zaman Kerajaan Majapahit. Para perajin menggunakan cetakan dari lilin dan mengandalkan proses pembakaran logam dengan suhu esktra tinggi.

Pembuatan patung logam memiliki proses rumit dan membutuhkan waktu yang panjang. Fajar Eka Maulana, salah satu perajin di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, mengatakan setidaknya diperlukan waktu 2-3 minggu untuk menyelesaikan satu patung cor berbahan kuningan.

Prosesnya dimulai dengan mengukir model patung dari lilin menggunakan pisau kecil. Ukiran lilin berbentuk karakter yang akan dijadikan patung itu disebut dengan matras. Fajar menyebut, bahan matras terbuat dari lilin cair yang dimasak dengan getah damar mata kucing. ’’Setelah jadi kemudian dipres dengan cetakan semen untuk diperbanyak, sehingga setiap produksi tidak perlu mengukir dari awal,’’ tuturnya.

Dari proses tersebut, terciptakan banyak cetakan patung yang bagian dalamnya dapat diisi dengan adonan semen. Cetakan kemudian dibungkus dengan tanah dan diberi saluran untuk menuang kuningan cair. ’’Sebelum dituang cairan kuningan harus dijemur dulu hingga kering, butuh 2 sampai 3 hari,’’ imbuh pemuda 28 tahun itu.

Setelahnya, bahan dimasukkan dalam tungku agar lilinnya mencair. Dari sana, proses pembuatan patung pun dimulai dengan menuangkan kuningan cair dan akhirnya terbentuk patung sesuai karakter matras. ’’Jadi prosesnya sangat panjang dan kompleks,’’ ucapnya. Kuningan yang dipakai merupakan hasil daur ulang. Logam tersebut didapat dari pengepul barang bekas yang tersebar di Trowulan.

Fajar mengatakan, ketelatenan menjadi kunci dalam pembuatan patung logam dengan motif yang mendetail. Ketepatan waktu juga menjadi penentu, karena matras tak boleh terlalu panas dan atau kelewat dingin sebab akan mempengaruhi bentuk patung. Selain itu, proses pembakaran kuningan pun harus bersuhu tinggi sekitar 1.000 derajat celcius.

Fajar mengungkapkan, patung kuningan yang dibuat perajin Bejijong mayoritas berupa dewa Hindu-Buddha. Namun, saat ini tokoh yang dibuat semakin beragam. Bahkan, dirinya juga membuat patung berbentuk karakter dari anime One Piece.

Fajar mengaku belajar membuat patung cor secara otodidak dengan memperhatikan ayahnya. Teknis tersebut dimiliki masyarakat Bejijong secara turun-temurun sejak nenek moyang mereka di zaman Majapahit. ’’Pakemnya masih sama dari dulu, dari zaman Majapahit dulu memang begitu,’’ ucapnya. (adi/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#pengolahan logam #Era Majapahit #kerajinan patung #kerajinan #Cor