SEMENTARA itu, eksistensi arbanat sebagai jajanan tradisional telah ada sejak masa prakemerdekaan. Diperkirakan, jajanan yang juga dikenal dengan arum manis ini sudah tersebar di tanah Jawa sejak dekade 1900-an.
Ayuhanafiq menuturkan, salah satu rujukan terkait keberadaan arbanat termuat dalam surat kabar Indische Courant. Catatan dalam media cetak yang terbit di Kota Surabaya pada awal abad ke-20 ini menjadi bukti telah tersebarnya jajanan arbanat.
”Meski pun penamaan jajanan ini berbeda-beda di tiap daerah, tapi keberadaannya sudah ada sejak masa kolonial," tuturnya. Meski bukan menjadi jajanan asli pribumi, namun pembawaan pedagang yang menjajakan sambil memainkan alat musik rebab menjadi mudah diterima oleh masyarakat.
Awalnya, arbanat berasal dari Persia yang kemudian tersebar hingga ke dataran India. ”Dimungkinkan dari orang India itulah arbanat dibawa sampai ke Jawa,” sebutnya.
Dengan harga yang terjangkau, jajanan ini kemudian menyebar hingga berbagai kota-kabupaten di Pulau Jawa. Namun, saat ini hanya beberapa saja yang masih mempertahankan menjajakan arbanat dengan ikon khasnya membawa alat musik rebab. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi