Keberadaan jajanan masa lalu banyak yang mulai terkikis oleh zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah arbanat. Meski sudah jarang dijumpai, namun masih ditemukan segelintir pedagang yang menjajakan secara berkeliling dengan memainkan rebab.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, dulu di wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto tersebar banyak penjual arbanat. Namun, keberadaannya perlahan tersisih dengan jajanan yang diolah dan dikemas lebih modern. Meski begitu, saat ini masih dijumpai penjual arbanat yang mempertahankan ciri khasnya sejak masa lalu. ”Pada umumnya jajanan arbanat dijajakan dalam wadah kaleng berbentuk kotak,” ulasnya.
Dari sisi penamaan, diperkirakan jajanan berbahan dasar gula ini telah eksis sejak masa kolonial. Karena kata arbanate dari bahasa Belanda memiliki arti manisan. Namun, sejumlah kalangan masyarakat juga lazim mengenal jajanan ini dengan nama rambut nenek. ”Karena arbanat terbuat dari gula pasir yang dipanaskan dan dibentuk menjadi serat lembut seperti rambut,” papar pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Dulu, hampir setiap pusat keramaian atau kegiatan pasar malam selalu terdapat penjual arbanat. Dengan tampilan warna kemerahan, jajanan ini menjadi favorit kalangan anak-anak. Meski demikian, sehari-hari jajanan ini juga dijual keliling di perkampungan. Untuk menarik perhatian dari calon pembeli, pedagang berjalan sambil memainkan alat musik tradisional rebab. ”Pembuat arbanat menjual berkeliling dari kampung ke kampung,” tuturnya.
Lambat laun, bunyi yang keluar dari alat musik gesek itu menjadi akrab di telinga masyarakat. Yakni, menandakan bahwa ada penjual arbanat yang lewat. ”Bunyi rebab itu kemudian menjadi ciri khas penjual arbanat,” tandasnya. Seiring perkembangan zaman, sejumlah penjual ada yang memilih untuk berkeliling menggunakan sepeda angin. Bahkan, sekarang juga ada yang mengemasnya lebih kekinian dengan bermacam variasi arbanat karakter. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi