Musuh besar bangunan kayu adalah pelapukan. Untuk menghadapi ancaman konstruksi keropos, masyarakat Majapahit telah menyiapkan teknologi bernama umpak dan pilar yang dibuat dari batu. Material itu menjadi semacam alas yang mengindarkan tiang kayu dari sentuhan air dan daya lembab tanah.
Tak kurang contoh batu umpak yang ditemukan dari masa Majapahit. Begitu pula dengan pilar berbahan batu yang banyak dikoleksi Museum Majapahit di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana menjelaskan, fungsi utama umpak sebagai komponen dasar penahan beban bangunan.
Tak langsung menyentuh tanah, umpak berupa batu andesit yang dipahat secara rata diletakkan di atas lantai perkerasan yang tersusun dari bata merah. ”Tujuan peletakan di atas batu bata ini untuk menghindari umpak mengalami kemiringan karena amblas imbas daya lendut tanah," tuturnya.
Penerapan model konstruksi dasar ini menunjukkan masyarakat kala itu sudah mampu mengantisipasi ancaman kerusakan bangunan akibat perubahan kontur tanah dan peralihan musim.
Sebagai landasan kayu yang menyangga bangunan, umpak juga mencegah tiang dari pelapukan. Kayu tidak mudah keropos karena kelembaban tanah dan terus-terusan terkena air hujan. Sebab, jika dibiarkan kondisi itu bakal membuat bangunan mengalami keropos yang pada ujungnya jadi mudah ambruk. ”Umpak menjadi bentuk preventif mencegah pelapukan. Sebab, bahan dasar umpak terbuat dari batu yang tahan air serta suhu lembab,” ungkapnya.
Tak cukup dengan umpak, masyarakat Majapahit juga punya senjata lain untuk melawan kerusakan pada bangunan. Yakni, pilar batu yang dipakai sebagai sambungan separuh bagian bawah tiang kayu. Ada beragam bentuk pilar batu. Ada yang langsung ditumpangkan ke kayu, tapi ada pula yang disambung dengan memasukkan bagian kayu ke lubang di pilar batu. ”Model pilar bersambung ini biasanya ditemukan di bangunan terbuka semacam pendapa dan paseban,” ulas Tommy.
Menurutnya, penggunaan pilar batu memiliki banyak manfaat. Selain memperkokoh bangunan, pilar batu juga menghindarkan tiang dari risiko pelapukan, sehingga lebih awet. Fungsi ini tak jauh berbeda dengan umpak. Pun palam peletakannya, ada pilar bayu yang langsung menempel dengan tanah, namun ada pula yang dilandasi dengan umpak. ”Jadi, pilar batu ini bisa juga dimaknai untuk menghindari pertemuan langsung antara kayu dengan tanah agar tidak lapuk,” bebernya. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi