Industri keris di Nusantara mengalami kemajuan setelah munculnya teknologi pengecoran dan penempaan logam sekitar awal Mataram Kuno. Senjata tradisional Indonesia itu kemudian semakin dikenal secara luas semasa Majapahit. ”Senjata keris paling tidak sudah ada sejak abad ke-9,” kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.
Prasasti Rukam yang berasal dari tahun 907 Masehi menjadi salah satu bukti tertua terkait keris. Dalam uraian tentang barang-barang kelompok persajian untuk upacara penetapan sima (tanah perdikan), terdapat kalimat yang berbunyi ”Wsi wsi prakara wadun rimwas patuk patuk lukai tampilan linggis tatah wakyul kris gulumi kurumbhagi pamajha kampit dom”.
Kalimat itu mengandung arti: Segala macam benda yang terbuat dari besi (yaitu) kapak, kapak perimbas (beliung kecil), beliung, sabit, tampilan, linggis, tatah, parang, keris, tobak, pisau, pamajha, kampit, jarum. Tommy menjelaskan, kata ”keris” sendiri kemungkinan adalah sebuah onomatope alias kata yang dibentuk dari tiruan bunyi. Ketika digunakan untuk menusuk atau mengiris, akan terdengar bunyi ”kres” yang kemudian berubah menjadi ”keris”. ”Etimologi itu muncul karena pada awalnya keris dianggap sebagai sebuah benda teknomis, benda yang punya fungsi praktis sebagai senjata,” ujarnya.
Menurutnya, belati tikam yang telah dikenal masyarakat sejak sebelum Hindu-Buddha masuk ke Nusantara menjadi prototipe keris. Tatkala teknologi pengecoran dan penempaan logam bertambah maju, pembuatan keris mengalami perumitan. Tak hanya jadi alat iris, sebilah keris juga memiliki fungsi ergonomis dan estetika. Simbol-simbol dengan makna khusus pun kemudian ditambahkan untuk disampaikan kepada orang yang melihatnya.
Tommy menuturkan, transisi dari belati tikam menjadi keris itu kemungkinan terjadi pada masa awal dinasti Mataram Kuno di Jawa Tengah. Gejala perumitan kemudian diteruskan oleh dinasti-dinasti selanjutnya dan disebarkan secara lebih luas ke hampir seluruh kepulauan Nusantara pada masa Majapahit. ”Persebaran keris lalu diiringi dengan stilasi (pengayaan) lokal yang berbeda di setiap daerah. Gejala itulah yang memunculkan tangguh dalam ”dunia” perkerisan. Setiap zaman dan setiap daerah menampilkan gaya pembuatan yang berbeda-beda hingga akhirnya keris kini memiliki banyak sekali ragam bentuk dan motif,” beber dia. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi