Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Busana Perempuan Majapahit, Kenakan Selendang dengan Aksesori Gelang

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 27 September 2025 | 15:35 WIB

 

 

JEJAK ARKEOLOGIS: Panil relief kisah Sri Tanjung di dinding Pendopo Teras, kompleks Candi Penataran, Blitar.
JEJAK ARKEOLOGIS: Panil relief kisah Sri Tanjung di dinding Pendopo Teras, kompleks Candi Penataran, Blitar.

Selendang menjadi ciri khas busana yang dikenakan perempuan dari masa Kerajaan Majapahit. Mereka juga memakai aksesori untuk menghiasi tubuh, terutama gelang yang melingkar di lengan tangan.

 Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana mengatakan, informasi mengenai gambaran busana penduduk Majapahit dapat ditemukan melalui relief-relief candi.

 Baik pakaian milik golongan raja, bangsawan, maupun rakyat jelata. ”Seperti halnya pada penelitian yang dilakukan oleh Hari Lelono yang berjudul Busana Bangsawan dan Pendeta Wanita pada Masa Majapahit: Kajian Berdasarkan Relief-Relief Candi tahun 1999,”  jelasnya.

 Dalam kajiannya, Hari menggunakan Candi Penataran di Blitar dan Candi Kendalisodo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, sebagai sampel penelitian. Berdasarkan penelitian tersebut, lanjut Tommy, diperoleh gambaran busana bangsawan dan pendeta wanita yang cukup lengkap.

 Seperti relief pada dinding Pendopo Teras di Candi Penataran yang menceritakan kisah Sri Tanjung sedang melakukan perjalanan dengan diiringi seorang wanita. Melalui lukisan dinding itu, Sri Tanjung digambarkan memakai kain panjang yang menjuntai dari bawah payudara hingga batas pergelangan kaki. ”Pada bagian perut kain tersebut diikat dengan sebuah sabuk dari kain yang ujungnya dibentuk selendang dan diberi wironan,” tuturnya.

 Selain pakaian, yang menonjol dari sosok Sri Tanjung adalah gelang dengan bentuk bulatan agak tebal pada kedua tangannya. Dia juga digambarkan mengenakan kalung tebal di leher dengan hiasan.  Tommy melanjutkan, dari panil relief lainnya, tergambar pula busana yang dipakai seorang pendeta wanita.

 Di kepalanya terdapat hiasan kethu berupa semacam gelungan rambut yang ditutupi kain atau mahkota. Tanpa kalung, si pendeta terlihat memakai gelang bulat agak tipis. Adapun pakaian yang dipakainya memiliki motif garis geometris berbentuk wajik. ”Perbedaan yang mencolok antara busana yang dikenakan Sri Tanjung dengan pendeta wanita ialah kain panjang yang dikenakan oleh pendeta wanita menutupi payudara dengan model kain kemben Jawa hingga batas pergelangan kaki,” jelasnya. 

Menurut Tommy, wujud cara berbusana wanita digambarkan berbeda di relief Candi Kendalisodo. Di sini, terdapat adegan seorang pria diapit oleh dua wanita. Satu wanita di depan pria digambarkan memakai dua lapis kain panjang yang menutupi payudara sampai batas pergelangan kaki. Belahan kainnya terdapat di bagian kanan belakang. Adapun pada bagian perut di bawah payudara di wanita diselempangkan selendang yang diselipkan di ketiak kiri. ”Ujung selendang itu diberi wironan sehingga tampak lebih bagus dan raya,” imbuh dia. 

Sementara itu, wanita kedua yang berada di belakang pria mengenakan model kain yang sama, akan tetapi berbeda letak belahan kainnya. Yakni, terletak di depan dari samping kiri menyilang ke kanan bawah. Wanita tersebut juga tidak memakai aksesori sehingga terkesan polos. ”Tapi, sebagai pelengkap, dia memakai selendang yang ditaruh di pundak kanan,” tandasnya. (adi/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#gelang #Era Majapahit #busana perempuan #aksesori #Selendang #Zaman Kerajaan