BUAT apa sebenarnya masyarakat Majapahit membuat patung kecil dari tanah dengan beragam bentuk yang spesifik? Tak ada jawaban pasti. Namun, kemungkinan figurin-figurin itu ada dalam kegiatan upacara keagamaan, menjadi hiasan bangunan, hingga dipakai anak-anak untuk bermain.
Hal ini disampaikan Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana. Menurutnya, belum ada bukti yang dapat menunjukkan kegunaan figurin terakota. Hanya saja beberapa ahli memperkirakan fugurin berbentuk manusia berkaitan dengan aktivitas keseharian masyarakat. ’’Ada pendapat yang mengemukakan tentang figurin tersebut berfungsi sebagai mainan anak-anak dan boneka pertunjukan, kelengkapan upacara keagamaan, hiasan bangunan, dan kotak uang,’’ jelasnya.
Selain menjadi sarana hiburan dan bagian dari acara sakral, keberadaan figurin juga menunjukkan keunggulan bakat seni dan nilai estetika yang hidup di tengah masyarakat. Terlebih, rumah-rumah Majapahit juga kental dengan ornamen hiasan. Tak heran jika figurin juga dimungkinkan memiliki fungsi pajangan. ’’Kerajaan Majapahit sudah mengenal kebiasaan menghias rumah dengan berbagai bentuk pajangan seni, salah satunya tampak dari temuan berbagai figurin unik berwajah arab berbahan terakota,’’ tandasnya.
Lain halnya dengan figurin binatang. Dengan ukurannya yang lebih besar dari figurin manusia, terakota binatang berguna sebagai celengan. Yang paling banyak ditemukan adalah celengan berbentuk babi. Adanya benda tersebut menunjukkan masyarakat Jawa kuno telah memiliki manajemen menabung yang baik. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi