Kerajaan Majapahit banyak memiliki peninggalan berupa kerajinan tangan berbahan tanah yang disebut dengan terakota. Salah satunya berupa figurin alias arca mungil dengan berbagai bentuk berupa sosok manusia berwajah orang asing dan binatang.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana mengatakan, kemajuan seni kriya dari era Majapahit sekitar abad ke 13 hingga 15 terwujud dalam terakota.
Ragam benda terakota yang ditemukan di bekas ibu kotanya, Trowulan, Mojokerto, antara lain berupa figurin-figurin menyerupai manusia dan bentuk binatang, seperti babi dan sapi. ”Terakota sebagai kesenian dari tanah liat yang dibakar ada yang berupa gerabah untuk kebutuhan sehari-hari, batu bata, genting, dan tentunya figurin ini,” jelasnya.
Ketika pertama kali ditemukan sekitar abad ke 19, tak sedikit figurin dalam kondisi lengkap dari kaki sampai kepala. Akan tetapi, ada pula yang menyisakan bagian badan, kepala, atau wajah belaka. Manusia figurin, kata Tommy, memiliki ukuran bervariasi dengan tinggi antara 10 sampai 35 sentimeter.
Secara penggambaran tubuh, terdapat perbedaan figurin manusia laki-laki dan perempuan. ”Raut wajahnya juga memperlihatkan variasi usia anak-anak, orang dewasa, dan orang tua,” tuturnya.
Meski berukuran cukup mini, sosok dalam figurin diukir secara presisi. Perajin Wilwatikta, sebutan Ibu Kota Majapahit, mampu membuat ekspresi wajah manusia yang tengah tersenyum dan tertawa. Pun dengan posisi figurin, seperti sedang jongkok, berdiri, duduk, atau bersila dibuat secara detail. ”Beberapa figurin juga dilengkapi atribut yang memperlihatkan perbedaan dalam cara berpakaian, perhiasan, dan alat-alat kerja,” beber dia.
Di antara sosok yang termanifestasi dalam figurin terpotret wajah khas Tiongkok dan Arab. Tommy menyebut, di masa itu Majapahit memang sudah ditinggali orang asing. Mereka datang ke Nusantara untuk urusan perdagangan, politik, dan keagamaan.
Dalam figurin, wajah orang Tiongkok digambarkan bermata sipit, rambut di sisir ke belakang, memiliki kumis, badannya gemuk, dan memakai jubah. ”Kalau ciri orang Arab digambarkan berhidung mancung dan memakai kopiah,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi