Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bangunan Era Majapahit: Bervariasi dari Atap hingga Kaki

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 15:40 WIB

 

ARSITEKTUR KUNO: Bangunan joglo Pendapa Graha Majatama, Pemkab Mojokerto, di Jalan Ahmad Yani, Kota Mojokerto.
ARSITEKTUR KUNO: Bangunan joglo Pendapa Graha Majatama, Pemkab Mojokerto, di Jalan Ahmad Yani, Kota Mojokerto.
 

Bangunan dari masa Kerajaan Majapahit memiliki bentuk yang beragam. Gaya aristektur atap, badan, sampai kaki bangunan memiliki varian yang berbeda-beda, sesuai dengan fungsinya.

 Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana mengatakan, gambaran tentang bangunan semasa kerajaan yang diyakini berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu dapat dilacak melalui relief candi. Beberapa pendapat para ahli, lanjut dia, menafsir komponen bangunan Majapahit terbagi menjadi tiga bagian utama. Ketiganya yaitu kepala bangunan, badan bangunan, dan kaki bangunan. ”Setiap komponen utama bangunan tersebut memiliki jenis-jenis tersendiri,” ujarnya.

 Layaknya rumah atau gedung di zaman sekarang, kepala bangunan atau yang lazim dikenal dengan sebutan atap memiliki fungsi melindungi dari terik matahari dan hujan. Berdasarkan bentuknya, bagian teratas bangunan ini setidaknya terbagi ke dalam lima jenis. Masing-masing, atap joglo, limasan, kampung, tajug, dan panggang-pe. ”Model-model atap rumah demikian masih dapat ditemukan di masa kini, akarnya dari masa Jawa kuno,” tuturnya.

 Setiap bentuk atap memiliki makna tersendiri. Panggang-pe misalnya, adalah atap paling sederhana karena berbentuk miring ke satu sisi saja. Saat ini, bentuk rumah tersebut biasanya dijadikan tempat tinggal sekaligus warung untuk berjualan. Adapun atap kampung dengan bentuk seimbang antara kanan dan kiri, sehingga membentuk segitiga runcing paling umum dipakai rakyat biasa.

 Sementara itu, lanjut Tommy, atap limasan biasanya memiliki strata cukup tinggi dan paling umum digunakan masyarakat Jawa. Berbeda dengan atap kampung, limasan menutupi bagian atas rumah pada empat sisinya dan memiliki ujung atasnya berbentuk segitiga tumpul. ”Kalau rumah joglo itu paling mewah dan dimiliki bangsawan. Sedangkan limasan bentuknya limas. Joglo ini atapnya kerucut dan biasanya disangga empat tiang utama,” jelasnya.

 Yang terakhir, atap tajug berbentuk atap runcing dengan empat sisi. Jenis ini sekarang umumnya dipakai untuk masjid. Tommy mengatakan, selain atap, bagian yang tak kalah penting dari bangunan Majapahit adalah badan bangunan. Sebagai penyambung atap dan kaki, badan bangunan terdiri dari unsur tiang dan dinding. ”Berdasarkan dindingnya, rumah kuno memiliki bentuk bangunan terbuka atau bertiang, bangunan tertutup, dan semi tertutup. Perbedaannya terletak pada fungsinya ya, kalau terbuka mungkin untuk gazebo, pendapa. Kalau tertutup jelas tempat tinggal,” beber dia.

 Setelah atap dan badan, yang terakhir kaki bangunan. Berada di bagian paling bawah, kaki rumah memiliki unsur penyusun berupa batur, umpak, lantai, serta tangga atau undakan. Dua elemen pertama berkaitan dengan tiang. Batur menjadi dasar atau fondasi. Sedangkan umpak merupakan penopang sekaligus pelindung kayu penyangga. Sementara tangga berkaitan dengan model kaki bangunan yang berkolong alias panggung. ”Karena kaki bangunan juga ada jenisnya sendiri dari segi bentuk, yaitu berkolong atau tidak berkolong,” tandas Tommy. (adi/ris)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#bangunan #arsitektur #atap #Era Majapahit #kerajaan majapahit #sejarah