Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Riwayat Tambang Pasir di Sungai Brantas

Rizal Amrulloh • Kamis, 31 Juli 2025 | 15:35 WIB
POTENSI EKONOMI: Perahu penambang mengangkut pasir dari Sungai Brantas untuk dibongkar di kawasan Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
POTENSI EKONOMI: Perahu penambang mengangkut pasir dari Sungai Brantas untuk dibongkar di kawasan Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Diincar Surabaya untuk Pembangunan Kota

Keberadaan Sungai Brantas sejak lama telah menjadi urat nadi perekenomian di wilayah Mojokerto. Selain pernah menjadi akses transportasi air, potensi alam di dalamnya juga menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Salah satunya material pasir yang sempat jadi incaran pasar luar daerah.

DAHULU, aliran Sungai Brantas yang membelah wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto lazim dijumpai para penambang pasir. Keberadaannya makin marak setelah masa kemerdakaan RI. ’’Karena program pembangunan fisik digencarkan oleh pemerintah setelah merdeka,’’ ungkap sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.

Brantas menjadi salah satu aliran sungai yang memiliki kandungan pasir yang melimpah. Para penambang mengambil pasir dengan mengeruknya dari dasar sungai dengan cara konvensional.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, pemandangan serupa juga terjadi di sepanjang aliran Sungai Mas. Hasil tambang pasir dari anak Sungai Brantas ini sebagian besari dusuplai ke Kota Surabaya. ’’Pasokan pasir ke Surabaya cukup pesat karena digunakan untuk meterial pembangunan perkotaan,’’ ulasnya.

Arus distribusi pasir tersebut berlangsung hingga dekade 1960an. Lambat laun, kata Yuhan, Surabaya mengandalkan suplai pasir dari Sungai Brantas di wilayah Sidoarjo dan Mojokerto. Tingginya permintaan membuat kalangan petani beralih profesi menjadi penambang pasir. Sebab, penghasilannya dinilai lebih menjanjikan dibanding bercocok tanam.

Terlebih, para penambang juga tidak membutuhkan banyak modal. Di samping itu, mereka juga tidak perlu memikirkan terkait transportasi untuk mengirimkan barang luar daerah. ’’Karena penambang cukup mengangkat pasir ke tepi sungai, kemudian ada pembeli yang datang dan mengangkutnya menggunakan truk ke Surabaya,’’ tandas Yuhan.

Transaksi jual beli pasir ramai terjadi di timur pintu air atau dam Mlirip, Kecamatan Jetis. Tak heran, pada kisaran 1970-1980-an, banyak truk yang lalu lalang di wilayah utara Sungai Brantas Mojokerto. ’’Sehingga, di Mlirip dulu dikenal dengan pasar pasir,’’ paparnya. (ram/fen)

 

Editor : Hendra Junaedi
#tambang pasir #mlirip #transportasi air #sungai brantas #jetis mojokerto