Di masa kolonial, terdapat belasan parbik gula yang berdiri di wilayah Mojokerto. Di masa kejayaannya, industri gula mengandalkan sarana transportasi untuk mengangkut tebu dari lahan perkebunan untuk dijadikan bahan baku produksi.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan suiker fabriek atau pabrik gula di Mojokerto telah berlangsung sejak abad ke-19. Antara lain ditandai dengan berdirinya Pabrik Gula Sentanen Lor pada tahun 1834 dan disusul Pabrik Gula Gempolkrep di kisaran 1845.
Pada awal abad ke-20, industri gula mengalami perkembangan yang pesat. Sehingga sejumlah pabrik gula juga dibangun di beberapa titik lainnya. Meliputi di wilayah Jetis, Bangsal, Mojosari, Ngoro, Kutorejo, hingga Jatirejo. ”Pembangunan pabrik gula ini juga dibarengi dengan pembukaan lahan untuk ditanam tebu sebagai bahan baku produksi,” ungkapnya.
Lahan tersebut biasanya disewa dari petani di sekitar pabrik. Sehingga dibutuhkan sarana transportasi untuk mengangkut hasil panen tebu untuk dibawa ke tempat produksi.
Sosok yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, awalnya tebu-tebu diangkut dengan menggunakan pedati alias cikar. Saat musim giling, moda transportasi yang ditarik menggunakan tenaga sapi ini lalu lalang dari sawah ke pabrik gula. ”Pabrik gula membayar jasa angkut tebu berdasarkan jumlah rit dan jarak tempuh cikar,” ulasnya.
Namun, sarana pengangkut tebu dari pedati ini terbilang kurang efektif. Selain waktu pengiriman yang dinilai lamban, biaya yang dikeluarkan juga dianggap membengkak. Terlebih bagi Pabrik Gula Gempolkrep yang memiliki lahan pertanian di wilayah selatan Sungai Brantas.
Sehingga sais pedati harus melintasi Jembatan Terusan yang menjadi satu-satunya akses untuk menyeberangi sungai. ”Jarak yang ditempuh jadi bertambah jauh,” imbuhnya. Guna menekan biaya pengeluaran, maka dibangun jalur lori atau kereta bertenaga lokomotif untuk mengangkut tebu.
Jalur transportasi darat ini tersambung dari lahan-lahan pertanian hingga berakhir ke emplasemen tebu di pabrik gula. ”Dengan menggunakan lori yang ditarik oleh lokomotif, maka pabrik tidak perlu lagi membayar sewa angkut cikar,” urainya.
Selain lebih efisien, lori juga mampu mengangkut tebu dengan jumlah yang jauh lebih banyak dalam satu kali rit. Selain jalur perlintasan rel, pembangunan juga menyentuh jembatan agar lori bisa melintasi Sungai Brantas.
Sehingga sekitar tahun 1938 juga dibangun Jembatan Pagerluyung oleh Pabrik Gula Gempolkrep. ”Dengan adanya jembatan, lokomotif penarik tebu dapat mengangkut ratusan ton tebu dari selatan Sungai Brantas menuju ke emplasemen pabrik gula,” pungkas Yuhan. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi