Pemerhati Sejarah Temukan Sekolah dan Rumah Kontrakan BK
MOJOKERTO RAYA Jawa Pos Radar Mojokerto - Sejumlah pemerhati sejarah membuktikan jejak Soekarno di Sidoarjo pada 1907, ditandai penemuan sekolah dan rumah yang dulu ditinggali bersama Raden Soekeni, ayahnya. Temuan itu sekaligus membantah keterangan pada tugu peringatan Soekarno dan buku Soekarno di Mojokerto yang menyebutkan, Bung Karno (BK) masuk ke Mojokerto pada 1907.
Kelompok pemerhati sejarah menelusuri jejak Soekarno di Sidoarjo, Sabtu (14/6). Mereka menemukan rumah kuno dan sekolah yang diduga pernah ditempati Bung Karno bersama orang tuanya. Sekolah itu yakni SDN Pucang 2, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Pucang, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo. Sedang, rumah Soekarno di Jalan Yos Sudarso Nomor 19.
Bindhad Nurrohmat, inisiator Titik Nol Soekarno mengatakan, dirinya bersama komunitas Persada Soekarno Kediri dan Sidoarjo Masa Kuno menelusuri sejumlah tempat yang diduga pernah dijejaki mantan presiden pertama Indonesia kala masa anak-anak. Itu dilandasi pengetahuan perihal periode kehidupan Soekarno sebelum ke Mojokerto, yang mana bersama orang tuanya pernah tinggal di Sidoarjo.
’’Soekarno dan Pak Soekeni itu berada di Sidoarjo, antara tahun 1907-1909. Mereka itu sama-sama berada di tempat yang sama sebagai guru dan siswa di sekolah Ongko 2 Sidoarjo yang kini bernama SDN Pucang,’’ kata Binhad kepada Jawa Pos Radar Mojokerto selepas melakukan penelusuran di Sidoarjo.
Menurut informasi yang didapatkannya, tempat tinggal Soekeni dan keluarga di Jalan Yos Sudarso yang dulu namanya Jalan Ketelstrat. Di lokasi itu ada beberapa rumah lama. ’’Kita tadi menemukan dua rumah. Kemungkinannya atau diduga, rumah yang dulu didiami oleh Pak Soekeni dan Soekarno di Jalan Yos Sudarso Nomor 19,’’ lanjut pria asal Jombang ini.
Lebih lanjut, pihaknya mengatakan ada beberapa warga yang tahu secara Soekarno sekolah di Pucang itu salah satunya adalah Bapak Mugim. ’’Bapak Mugim itu kelahiran tahun 45. Nah itu sudah tahu sebenarnya SD Pucang itu di mana dan tahu bahwa secara Soekarno di situ,’’ lanjutnya.
Bahkan, masih kata Binhad, karena pak Muqim ini seorang anggota di DPRD Sidoarjo periode 1999-2004, pernah memperjuangkan. ’’Yakni, bagaimana supaya SDN Pucang itu tempatnya Soekarno sekolah dan tempatnya Soekeni mengajar itu bentuk aslinya dipertahankan,’’ kata inisiator Titik Nol Soekarno ini.
dr Sudi Hardjanto, kata Binhad, adalah founder Sidoarjo Masa Kuno mengatakan, dari beberapa sumber menyampaikan Soekarno pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Ongko 2 Sidoarjo. Kini, sekolah itu bernama SDN Pucang, Kabupaten Sidoarjo. ’’Pernah juga cucu dari kepala sekolah yang bernama Klassen, mendatangi SDN Pucang ini. Ada fotonya. Itu menerangkan Sekolah Ongko 2 itu di sini (SDN Pucang),’’ ujarnya.
Dari dokumen yang dimiliki dr Sudi, terdapat foto Klassen bersama murid-muridnya. Dalam keterangan foto, sekolah awalnya bernama HIS (Hollands Inlandre School). Sekolah yang didirikan 1901 ini dulunya Soekarno pernah mengenyam pendidikan. ’’Yang masih dipertahankan itu bagian depan ruang kepala sekolah,’’ ujar dr Sudi.
Berdasarkan foto koleksi Tropenmuseum, keberadaan Sekolah Ongko 2 nyata adanya. Dalam keterangan foto diketahui siswa Inlandsche School der Tweede Klassen nummer 2 membeli jajanan pada jam istirahat pukul 09.00 dari seorang wanita di halaman sekolah. Bangunan sekolah tampak masih berdinding bilah bambu.
RM Kuswartono dari Persada Soekarno Kediri mengingatkan pesan terakhir Bung Karno (BK) adalah Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah). Untuk itu, simpul-simpul penting di Sidoarjo bagi bapak bangsa, ditanggapi masyarakat dan pemerintah agar bisa dikaji lebih mendalam lagi. ’’Harapan kami bisa dipertajam lagi supaya jadi pembelajaran ke depannya. Agar generasi mendatang tidak buta sejarah,’’ ujarnya di lokasi yang sama. (fen)
Editor : Hendra Junaedi