SEMENTARA itu, waduk kuno yang menjadi pengendali banjir era Kerajaan Majapahit diduga sudah ada sejak masa Airlangga. Raja Kahuripan itu konon memerintahkan pembangunan bendungan setelah luapan Sungai Brantas merusak desa dan sawah.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana mengatakan, kisah tersebut terekam dalam Prasasti Kamalagyan bertahun 1037 Masehi. Prasasti yang ditemukan di Krian, Sidoarjo, itu menjadi bukti tata kelola air pada masa era Jawa kuno. ’’Prasasti Kamalagyan berbicara tentang pengendalian banjir dengan pembangunan Waduk Waringin Sapta atau Waringin Pitu,’’ jelasnya.
Menurutnya, pembangunan waduk atau bendungan tersebut dilakukan setelah peristiwa banjir besar. Luapan Sungai Brantas itu telah menyebabkan penghasilan kerajaan turun karena sawah rusak. Tommy menyatakan, bendungan membuat aliran sungai terpecah dan bisa dilalui perahu yang membawa barang dagangan. ’’Keberadaan kolam besar ini juga berhasil mengatur air sehingga tidak menimbulkan banjir,’’ tuturnya.
Teknik pengendalian banjir dengan infrastruktur bangunan penampung kelak diteruskan Kerajaan Majapahit yang eksis pada abad ke-13 hingga ke-16 Masehi. Puluhan waduk dibangun di sekitar kota, pun dengan kanal-kanal yang memiliki konstruksi kokoh dari batu bata. ’’Sistem perairan ini saling terintegrasi untuk membuang air ke sungai dan sawah,’’ tandas Tommy. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi