Moda transportasi di Mojokerto mengalami sejumlah transisi dari masa ke masa. Mulai armada perahu yang menjadi angkutan di era pra kemerdekaan, kemudian beralih ke moda transportasi darat.
Keberadaan Sungai Brantas yang melintas di wilayah Mojokerto menjadikan perahu sebagai salah satu sarana transportasi masyarakat. Bahkan, keberadaannya diperkirakan telah eksis sejak masa Kerajaan Majapahit.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, perahu tidak hanya menjadi sarana transportasi masyarakat. Tetapi moda transportasi air ini juga digunakan sebagai angkutan barang. ”Karena Sungai Brantas dulu pernah menjadi jalur perdagangan,” ungkapnya.
Jalur transportasi air tersebut masih bertahan hingga di kisaran awal abad 20. Hal itu ditunjang dengan berdirinya pabrik gula (PG) di Mojokerto. Sehingga hasil produksinya bisa didistribusikan hingga ke luar kota.
Guna menunjang transportasi air tersebut, pada kisaran 1846 dibangun pintu air Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Dengan fasilitas tersebut, maka arus lalu lintas perahu bisa melintasi sungai secara bergiliran.
Namun, eksistensi perahu air ini perlahan mulai meredup sejak dibangunnya jalur kereta api. Kemunculan armada transportasi darat ini kemudian banyak dilirik oleh perusahaan gula maupun masyarakat umum. ”Selain untuk mengirim barang, kereta api juga difungsikan untuk armada penumpang,” imbuh pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Dalam perkembangannya, terdapat tiga perusahaan kereta api dengan berbagai relasi yang melintasi wilayah Mojokerto. Meliputi, Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Staatsspoorwegen (SS), dan Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS).
Dengan biaya yang murah dan fasilitas lebih memadai, kehadiran lokomotif bermesin uap ini kemudian menyisihkan angkutan air di Sungai Brantas. Namun, keberadaan perahu-perahu sudah jarang dijumpai lagi sebelum proklamasi kemerdekaan. ”Hampir semua komoditas dagang akhirnya beralih ke angkutan darat,” tandasnya. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi