Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Arsitektur Bangunan Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 7 Juni 2025 | 15:55 WIB
KUNO: Bentuk genting biasa dan genting bubungan peninggalan Kerajaan Majapahit koleksi Museum PIM, Trowulan.
KUNO: Bentuk genting biasa dan genting bubungan peninggalan Kerajaan Majapahit koleksi Museum PIM, Trowulan.

 Dari Atap Ijuk Berkembang Jadi Genting

 Bangunan tempat tinggal masyarakat Majapahit menyimpan khazanah arsitektur yang melimpah. Penggunaan bahan atap rumah dengan tanaman hingga beralih menjadi genting adalah salah satu contohnya. Pergeseran gaya konstruksi menggunakan tanah liat yang dibakar ini tak lepas dari masifnya budaya kerajinan terakota pada masa akhir kerajaan.

 Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana mengatakan, bentuk bangunan Majapahit dianggap sebagai cerminan arsitektur Jawa kuno. Sebab, cukup banyak informasi yang dapat digali dari peninggalan berupa serpihan rumah ataupun candi dari era kerajaan yang eksis 700 tahun silam itu. Tak terkecuali mengenai bentuk-bentuk atap bangunannya. 

”Dari prasasti, bekas bangunan, dan catatan sejarah dapat dilihat bahwa atap rumah masyarakat Majapahit mengalami perubahan dari masa awal dan akhir kerajaan,” tuturnya.

 Pria yang berkantor di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM), Desa/Kecamatan Trowulan, ini menyebut rumah rakyat biasa digambarkan menggunakan atap dari ijuk atau jerami. Model atap bangunan ini salah satunya tercatat dalam risalah perjalanan Ma Huan ke tanah Jawa yang diabadikan dalam buku Ying-yai Sheng-lan. Tanaman yang telah dikeringkan ditata sedemikian rupa, sehingga melindungi bagian atap bangunan dari terik matahari dan hujan.

Photo
Photo

 Tommy mengatakan, ijuk dibuat dari serat pangkal pelepah daun aren. Serabut hitam itu memiliki karakter kaku dan kuat, sehingga cocok dijadikan atap bangunan. Hingga sekarang bangunan tradisional di Pulau Bali masih menggunakan ijuk. Pun demikian dengan jerami dari sisa tanaman padi serta alang-alang yang mudah ditemukan di alam. ”Bahan-bahan alami sebagai atap rumah ini muncul pada masa awal dan pertengahan Majapahit,” imbuhnya. 

Berbeda dengan era akhir kerajaan. Di masa ini, gaya bangunan masyarakat telah mengalami perkembangan cukup drastis. Dari yang awalnya memanfaatkan bahan alami, kini mereka telah menggunakan genting. ”Jadi masyarakat telah membuat genting dari tanah liat yang dibakar seperti sekarang ini sebagai penutup atap rumahnya,” tandas Tommy. 

Hanya saja, ukuran genting Majapahit lebih besar dibanding sekarang. Bentuknya pun hanya segi empat biasa dan cenderung tebal. Lahirnya genting tak lain merupakan bagian dari perkembangan kerajinan terakota yang menjadi budaya penting Majapahit, sebagaimana aneka gerabah serta patung-patung figurin. 

Selain genting biasa, perajin Majapahit juga membuat genting bubungan. Jenis ini memiliki bentuk melengkung dan mempunyai hiasan di tengahnya. Genting bubungan yang juga dikenal dengan wuwungan atau wuwung memiliki fungsi sebagai penutup sambungan antara sisi atap yang satu dengan lainnya. Genting bubungan yang berada paling ujung biasanya memiliki hiasan bentuk sulur dan ukal. ”Bubungan adalah unsur penting pada atap rumah, baik secara fungsi maupun bentuknya yang menonjolkan estetika,” beber dia. (adi/ris)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#genting #arsitektur #Era Majapahit #Bangunan Rumah #atap rumah