Kotak Gali Diberi Penanggulan
TROWULAN - Cuaca ekstrem membayangi gelaran ekskavasi Situs Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Tim arkeolog telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi agar temuan arkeologis tetap terjaga dari faktor cuaca.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Candi Brahu M. Ichwan tak menampik jika cuaca buruk telah membayangi sejak kali pertama ekskavasi dilakukan pada 13 Mei lalu. Langkah mitigasi bagi keamanan tim ekskavasi pun telah ditentukan. ’’Ketika hujan lebat, ekskavasi kita hentikan sementara dan dilanjutkan setelah reda,’’ ungkapnya.
Upaya mitigasi serupa diberlakukan untuk temuan arkeologis. Baik berupa temuan lepas maupun struktur susunan bata kuno yang telah ditampakkan dari dalam tanah. Ichwan menyebut, sekeliling kotak gali akan ditanggul untuk mengamankan struktur yang ada di bawahnya dari genangan air di sekitar lokasi. ’’Akan kita lakukan penanggulan-penanggulan sementara supaya air (dari sekitar) tidak masuk (kotak gali),’’ ungkap Ichwan.
Langkah ini, lanjut Ichwan, diprioritaskan untuk kotak gali yang berada di dekat aliran irigasi maupun sungai. Area ekskavasi di kebun sisi selatan candi relatif tergolong aman. Sementara, sejumlah temuan lepas berupa fragmen gerabah dan keramik kuno langsung diamankan dan disimpan di kantor petugas keamanan Candi Brahu. ’’Untuk fragmen-fragmen temuan lepas langsung kami simpan di ruangan petugas situs,’’ tandasnya.
Ekskavasi Situs Candi Brahu ini digelar BPK Wilayah XI mulai tanggal 13 hingga 28 Mei mendatang. Selama 14 hari tim arkeolog menyasar sekitar 30 kotak gali untuk menelusuri sebaran cagar budaya sekaligus struktur pagar keliling candi. Dari puluhan kotak gali yang telah dibuka, peneliti menemukan susunan bata kuno yang tersebar di sejumlah titik.
Satu struktur memanjang yang berada di selatan candi bercorak Hindu-Buddha ditengarai sebagai pagar keliling. Meski begitu, tim arkeolog mengakui denah keruangan Situs Candi Brahu masih misterius. Itu karena adanya sejumlah susunan bata sisa bangunan kuno yang tersebar tidak tersambung satu sama lain. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi