Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fesyen Perempuan Era Majapahit 

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 24 Mei 2025 | 15:30 WIB

JEJAK ARKEOLOGIS: Panel relief kisah Sri Tanjung di dinding Pendopo Teras, kompleks Candi Penataran, Blitar. 
JEJAK ARKEOLOGIS: Panel relief kisah Sri Tanjung di dinding Pendopo Teras, kompleks Candi Penataran, Blitar. 
 

 Gunakan Kemben hingga Aksesori Perhiasan 

 GAYA berpakaian alias fesyen kalangan perempuan elite Kerajaan Majapahit menandai perkembangan dunia mode pada masa Jawa kuno. Mereka mengenakan busana kemben yang dilengkapi dengan perhiasan seperti gelang dan kalung sebagai aksesori tubuh. 

Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim, Tommy Raditya Dahana, menuturkan tren fesyen yang mengalami perubahan dari masa ke masa menjadi cerminan realitas sosial budaya masyarakat pada zamannya. Tak terkecuali di era Majapahit. Gaya berbusana pada masa kerajaan yang eksis 700 tahun silam itu tergambar melalui relief-relief candi. ’’Seperti gambaran busana bangsawan dan pendeta wanita yang cukup lengkap di relief Candi Penataran, Blitar,’’ ujarnya. 

Menurut Tommy, relief kisah Sri Tanjung dapat dijadikan representasi wujud busana perempuan kalangan elite kerajaan. Relief tersebut terdapat pada Batur Pendopo atau yang biasa disebut Pendopo Teras di kompleks Candi Penataran. 

Sri Tanjung, lanjutnya, digambarkan memakai kain panjang dari bawah payudara sampai batas pergelangan kaki. Busana ini layaknya kemben di zaman sekarang. Bagian perut pakaian tersebut diikat dengan sebuah sabuk dari kain yang ujungnya dibentuk menjadi selendang dan diberi wironan alias lipatan. ’’Perlengkapan busana lainnya berupa gelang pada kedua tangan dengan bentuk bulatan agak tebal dan kalung tebal pada leher dengan hiasan,’’ bebernya. 

Tommy melanjutkan, pada bagian relief lainnya juga digambarkan seorang pendeta wanita menggunakan hiasan kepala atau kethu. Aksesori ini semacam gelungan rambut yang ditutupi kain atau mahkota. Namun demikian, terdapat perbedaan mencolok antara busana yang dikenakan Sri Tanjung dengan si pendeta. 

Perbedaan itu terdapat pada kain panjang pendeta wanita yang menutupi payudara hingga batas pergelangan kaki, yang memiliki motif garis geometris berbentuk wajik. ’’Kedua tangan pendeta juga memakai gelang agak tipis berbentuk bulat, tapi dia tidak memakai kalung pada leher sebagaimana Sri Tanjung,’’ ujarnya. 

Gaya busana wanita Majapahit juga terlacak di dinding Candi Kendalisodo, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tommy menyatakan relief itu menunjukkan dua perempuan yang mengapit seorang pria. Wanita di depan pria digambarkan memakai dua lapis kain panjang yang menutupi payudara sampai batas pergelangan kaki. Kain tersebut memiliki belahan pada bagian kanan belakang. Sementara itu, di bagian perut bawah dada terselempang selendang yang ujungnya diselipkan di ketiak kiri. ’’Ujung selendang diberi wironan sehingga tampak lebih bagus dan megah,’’ ungkap dia. 

Adapun wanita di belakang pria mengenakan model kain yang sama, akan tetapi berbeda letak belahan kainnya, yakni berada di depan samping kiri menyilang ke kanan bawah. Wanita tersebut, paparnya, juga tidak memakai aksesoris sehingga terkesan polos. ’’Sebagai pelengkap, dia memakai selendang yang ditaruh di pundak kanan,’’ tandas Tommy. (adi/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#fashion #Trend Fashion #gaya berpakaian #Era Majapahit #kerajaan majapahit #jawa kuno