Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tradisi Malaman di Bulan Suci Ramadan, Ater-Ater Makanan sebagai Hidangan Buka Puasa

Rizal Amrulloh • Kamis, 27 Maret 2025 | 14:25 WIB

 

TRADISI: Rantang yang dahulu populer dijadikan sebagai wadah ater-ater makanan atau weweh saat malaman di sepuluh hari terakhir Ramadan.
TRADISI: Rantang yang dahulu populer dijadikan sebagai wadah ater-ater makanan atau weweh saat malaman di sepuluh hari terakhir Ramadan.

 Di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, umat muslim berlomba-lomba meningkatkan amal ibadah untuk menjemput lailatul qadar. Masa yang disebut oleh masyarakat Jawa, termasuk di Mojokerto sebagai malaman ini juga diikuti dengan berbagai ritus dan tradisi. Salah satunya adalah ater-ater dengan memberikan hantaran makanan bagi sanak saudara dan tetangga sebagai hidangan berbuka puasa.

 Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, tradisi ater-ater atau juga dikenal weweh telah dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat. Meski mulai terkikis zaman, namun kebiasaan tersebut masih dapat dijumpai di wilayah Mojokerto hingga saat ini. ”Ater-ater atau weweh adalah tradisi saling memberi makanan yang dikirimkan pada saat sore hari,” ungkapnya.

 Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, makanan dikirimkan kepada sesama anggota keluarga maupun warga di sekitar rumah. Dengan harapan, hantaran berupa nasi, lauk pauk, kue, hingga olahan menu lainnya itu bisa jadi hidangan untuk berbuka puasa.

 Menurutnya, tradisi ater-ater ini hanya dapat dijumpai saat malaman. ”Biasanya wewehan diberikan pada hitungan malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan,” ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

 Sebab, masyarakat meyakini pada malam ganjil di bulan suci adalah waktu diturunkannya lailatul qadar. Sehingga, tradisi ater-ater banyak dilakukan di lima hari penanggalan ganjil dalam malaman. ”Karenanya, selain hitungan ganjil atau pada malam genap dinamakan tuang yang berarti kosong,” imbuhnya.

 Merujuk Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI, Trowulan, Jawa Timur, ater-ater menjadi momen kegembiraan tersendiri bagi anak-anak jelang Hari Raya Lebaran. Selain bersilaturahmi, mereka biasanya juga mendapatkan sangu alias uang saku usai mengantarkan wewehan ke rumah saudara dan tetangga. ”Sehingga anak-anak selalu antusias untuk ater-ater makanan,” tandas Yuhan. 

Di sisi lain, ater-ater juga kerap disebut sebagai tradisi rantangan. Istilah ini muncul karena masyarakat dulu jamak menggunakan wadah rantang untuk mengantarkan wewehan. BPKW XI mencatat, rantang telah poluler pada kisaran 1950-an sebagai wadah hantaran makanan. Namun, eksistensinya kini makin memudar karena tergantikan dengan wadah lain yang dinilai lebih praktis. (ram/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#hidangan buka puasa #tradisi bulan puasa #Ater-Ater #tradisi lebaran