Adu Ketangkasan dengan Memacu Kuda
Di samping sebagai ruang terbuka publik, Alun-Alun Kota Mojokerto juga pernah dijadikan sebagai ajang adu keterampilan berkuda. Tradisi yang dikenal sebagai sodoran ini dulu menjadi tontonan yang menyedot animo masyarakat.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, sodoran merupakan adu ketangkasan menggunakan tombak di atas kuda. Tradisi Jawa yang eksis sejak abad ke-13 ini kembali dipopulerkan pada masa Bupati Bupati Kromodjojo Adinegoro III yang memimpin pada tahun 1866-1894. ”Tradisi sodoran digelar di Alun-Alun Mojokerto," terangnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengungkapkan, kegiatan sodoran tidak digelar secara rutin. Tetapi, hanya dilaksanakan pada momen-momen tertentu saja. Di antaranya, saat memperingati Hari Jadi Kabupaten Mojokerto. Dalam adu ketangkasan ini telah dilakukan modifikasi untuk menjamin keamanan peserta. Jika dulu menggunakan tombak, tradisi sodoran di Mojokerto menggunakan tongkat.
Dijelaskan Yuhan, dalam permainannya terdapat dua orang yang akan beradu keterampilan. Dengan menaiki kuda, keduanya saling berhadapan mengarahkan tongkat ke arah lawan sambil memacu tunggangannya. ”Yang jatuh dari atas kuda dinyatakan kalah,” imbuh anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Ajang tersebut menjadi tontonan sekaligus hiburan gratis bagi masyarakat Mojokerto kala itu. ”Karena itu, setiap pelaksanaan sodoran banyak warga yang memadati alun-alun untuk menyaksikannya,” papar Yuhan. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi