Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Riwayat Penerangan Jalan di Kota Mojokerto

Rizal Amrulloh • Kamis, 6 Februari 2025 | 14:35 WIB
SUMBER CAHAYA: Lampu berornamen Majapahitan yang kini menjadi penerangan di ruas jalan protokol di Kota Mojokerto.
SUMBER CAHAYA: Lampu berornamen Majapahitan yang kini menjadi penerangan di ruas jalan protokol di Kota Mojokerto.

Dari Lampu Oblik Ditingkatkan dengan Petromaks

Wilayah perkotaan identik dengan gemerlap cahaya saat malam. Demikian di Kota Mojokerto yang kini dilengkapi dengan berbagai sorotan lampu. Namun, sebelum jaringan listrik masuk kota, penerangan jalan mengandalkan lampu oblik yang berbahan bakar minyak tanah.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, penataan lampu perkotaan dilakukan sejak era kolonial. Tepatnya setelah Hindia-Belanda resmi membentuk Gemeente Mojokerto alias Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto pada 1918. ’’Setahun setelahnya, Pemkot Mojokerto mulai menganggarkan untuk penerangan lampu jalan,’’ terangnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, anggaran dialokasikan untuk pengadaan lampu. Karena belum terpasang jaringan listrik, sehingga penerangan jalan menggunakan lampu oblik atau lampu gantung. ’’Lampu berbahan bakar minyak tanah ini menjadi awal keberadaan penerangan jalan di Kota Mojokerto,’’ paparnya.
Pada pemasangannya, ungkap dia, lampu tidak disebar merata di semua ruas jalan. Melainkan hanya di lokasi dan titik-titik yang dianggap prioritas. Khususnya di kawasan yang dihuni oleh warga nonpribumi.
Baik ditempatkan di kompleks perumahan orang Eropa maupun ruas jalan di kampung Pecinan. Antara lain di sepanjang Jalan Hayam Wuruk, Jalan Majapahit, Jalan A. Yani, serta di sekitar Alun-Alun Mojokerto. ’’Sementara kawasan hunian pribumi tetap gelap gulita,’’ imbuihnya.
Selain untuk pengadaan, anggaran juga disiapkan pemerintah kota untuk pemeliharaan. Karena lampu-lampu penerangan jalan ini dipasang dengan digantung pada tiang saat matahari mulai tenggelam. ’’Jadi ada petugas yang khusus untuk memasang dan merawatnya setiap hari,’’ ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Pada 1923, penerangan jalan kemudian ditingkatkan dengan menggunakan lampu petromaks. Pemkot Mojokerto melakukan pergantian secara bertahap dengan mengganti lampu minyak dengan lampu bermerek Stormking. ’’Pergantian dilakukan karena lampu petromaks memiliki pancaran cahaya yang lebih terang,’’ imbuh dia.
Seiring berjalannya waktu, pemasangan lampu penerangan jalan juga diperluas. Salah satu yang disasar adalah pada ruas jalan yang menjadi gerbang masuk ke wilayah Kota Mojokerto. ’’Sehingga lampu petromaks juga dipasang di jembatan Terusan yang saat itu menjadi akses utama ke kota,’’ imbuhnya. (ram/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#lampu penerangan jalan #riwayat #sejarah #Kota Mojokerto #asal usul