SEMENTARA itu, pemindahan jenazah para pejuang memang lazim dilakukan sejak dibangunnya TMP Gajah Mada, Kota Mojokerto. Karena kompleks makam yang terletak di Jalan Pahlawan ini disiapkan secara khusus sebagai tempat persemayaman terakhir pejuang yang berjasa merebut kemerdekaan RI.
Ayuhanafiq mengungkapkan, jenazah pertama yang disemayamkan di TMP Gajah Mada adalah Letkol Soemardjo. Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Mojokerto ini gugur dalam peristiwa pertempuran Surabaya tahun 1945. Awalnya, jenazah Letkol Soemarjo dikebumikan di Taman Kebon Rojo dekat rumah dinas Wali Kota Mojokerto. Setahun kemudian, jenazahnya dipindahkan di TMP Gajah Mada. ’’Letkol Soemardjo dikebumikan di makam khusus pejuang yang gugur di medan perang,’’ ulasnya.
Selanjutnya, pemindahan makam juga dilakukan bagi para pejuang di seluruh wilayah Mojokerto agar disatukan di TMP Gajah Mada. Di samping itu, pemakaman massal juga langsung dilakukan bagi para korban pertempuran di garis pertahanan Surabaya barat atau Krian-Legundi. ’’Hampir setiap hari ada pejuang yang dikebumikan di TMP Gajah Mada,’’ tuturnya.
Setelah Surabaya jatuh di tangan musuh, garis pertempuran bergerak menuju Kota Mojokerto. Dia menyebut, pada Januari 1946 para pejuang membentuk barisan pertahanan untuk menahan pasukan konolial.
Akibatnya, banyak korban berguguran. Dikatakan Yuhan, jumlahnya mencapai ratusan dan seluruhnya dimakamkan di TMP Gajah Mada. ’’Jumlahnya pejuang yang gugur sekitar 360 orang. Sehingga pemakaman harus dilakukan hingga keesokan harinya,’’ tukas dia.
Dari peristiwa tersebut, sehingga banyak nisan pejuang yang tidak dikenal. Meski demikian, mereka tetap gugur sebagai para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi