Bangun Gedung Loji untuk Kantor Perdagangan
SALAH satu penanda masa awal penjajahan Belanda di Kota Mojokerto ditandai dengan didirikannya kantor perdagangan. Dari bangunan yang dikenal dengan gedung loji tersebut kemudian di sekitarnya berkembang menjadi permukiman kolonial.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, di Kota Mojokerto kantor perdagangan berada di sekitar Alun-Alun Wiraraja. Tepatnya, kini terletak di Jalan KH Wahid Hasyim yang terletak di tepi Sungai Brantas. ’’Belanda membangun gedung loji sebagai kantor perdagangan,’’ ungkapnya.
Menurutnya, keberdaan kantor perdagangan tersebut menjadi awal dari pengembangan wilayah jajahan. Karena dari dalam gedung loji tersebut, kolonial mengatur sektor perniagaan. ’’Namun fungsinya kemudian ditingkatkan menjadi benteng pertahanan,’’ ulas pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Kantor perdagangan tersebut juga dijadikan sebagai markas dari pasukan kolonial. Dalam perkembangannya, di sekitar gedung loji juga dibangun permukiman bagi warga berdarah Belanda. ’’Karena adanya gedung loji, masyarakat juga menyebut permukiman Belanda tersebut sebagai kampung Klojen,’’ tutur dia.
Lambat laun, di dekat permukiman kolonial itu juga didirikan gedung pemerintahan. Di antaranya kantor Asisten Residen Mojokerto di Jalan Hayam Wuruk yang menjadi perwakilan Pemerintah Hindia-Belanda di daerah. ’’Setelah gedung pemerintahan berdiri, deretan bangunan lainnya juga dibangun di sepanjang tepi Sungai Brantas,’’ tandas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi