Masifnya kegiatan perniagaan pada masa Kerajaan Majapahit tak lepas dari keberadaan jalur perdagangan darat dan air yang saling menopang. Komoditas hasil bumi dan industri diangkut menggunakan kuda dan sapi lewat jalur darat. Sementara itu, di jalur air, pedagang memanfaatkan Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang menjadi jaringan menuju pelabuhan.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana mengatakan, moda transportasi darat pada masa Majapahit masih menggunakan tenaga hewan. Di samping untuk menunjang aktivitas sehari-hari serta mobilitas kalangan kerajaan, hewan tunggangan dimanfaaatkan untuk mengangkut hasil panen dan barang dagangan. ”Salah satunya pedati berupa gerobak yang ditarik lembu atau sapi,” jelasnya.
Selain itu, pada era sekitar 700 tahun silam juga dikenal kereta kuda. Menurut Tommy, alat transportasi ini cenderung hanya dimiliki saudagar kaya yang menjalankan bisnis perdagangan hingga luar daerah. ”Mereka menggunakan kereta kuda untuk mengangkut barang dagangan dari pasar ke pelabuhan,” imbuhnya.
Soal pelabuhan, masyarakat pada abad ke 13-15 Masehi juga terkoneksi dengan daerah pesisir lewat jalur air. Hasil bumi dan industri dari Kerajaan Majapahit yang diyakini berpusat di Trowulan, Mojokerto, diperdagangkan ke luar kawasan melalui Sungai Brantas dan Bengawan Solo menggunakan perahu dan kapal. ”Brantas dan Bengawan Solo mampu menghubungkan daerah pedalaman Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa,” tandas Tommy.
Adapun pelabuhan penting pada masa Majapahit meliputi, Tuban, Gresik, Sidhayu, Surabaya, dan Canggu. Kapal dagang yang bersandar antara lain berasal dari wilayah Nusantara. Seperti, Banda Aceh, Ternate, Banjarmasin, dan Malaka. Sedangkan hubungan pelabuhan dagang dengan luar negeri yang membawa komoditas ekspor dan impor berasal dari Arab, Parsi, Gujarat, dan Benggala (selengkapnya lihat grafis). (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi