Teknologi pengarian pada masa Kerajaan Majapahit diterapkan untuk menopang kebutuhan irigasi sawah sekaligus berfungsi sebagai drainase yang mencegah bencana banjir. Infrastruktur ”jalan air” yang dibangun antara lain berupa saluran dari batu bata yang memiliki struktur kokoh dan lebar hampir satu meter.
Sejumlah bangunan terkait pengendalian air dari abad ke-13 sampai 15 Masehi itu dapat ditemui sekarang. Salah satunya adalah Situs Saluran Air Nglinguk di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. ”Saluran ini sengaja dibangun sebagai jalur untuk mengalirkan air,” kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana di Museum Majapahit Trowulan, kemarin.
Sekilas bentuk saluran air yang sudah berusia sekitar 700 tahun itu tampak modern, karena mirip dengan konstruksi di zaman sekarang. Bentuknya berupa lorong panjang dengan struktur dinding di kedua sisi. Jika drainase saat ini dibuang menggunakan fondasi batu dengan campuran pasir dan semen, saluran kuno itu menggunakan tembok penahan tanah (TPT) berupa batu bata.
Pada bagian dinding, tersusun sebelas lapisan bata dengan bentuk bata plint pada lapisan paling bawah. Struktur bata menunjukkan jika saluran dibuat dengan kuat agar tak mudah ambrol. ”Saluran didesain secara rigid sebagai jalur air yang terbukti awet,” imbuh Tommy.
Secara bentuk, Situs Saluran Air Nglinguk memiliki lebar 90 sentimeter dengan rata-rata kedalaman yang sama. Bangunan ini membentang dari timur ke barat sepanjang kira-kira 56 meter. Dari ukurannya yang cukup besar, jalur ini kemungkinan dialiri air irigasi dan juga drainase. ”Tapi, sejauh ini masih belum diteliti bagaimana jaringan saluran ini,” ujarnya. Kemungkinan fungsi itu juga mengingat letaknya yang berada di kawasan inti Ibu Kota Kerajaan Majapahit, yakni di Trowulan.
Keberadaannya memperkuat keyakinan adanya waduk dan jaringan kanal kuno sebagaimana temuan peneliti Henri Maclaine Point pada 1926. Arkeolog Belanda itu mengidentifikasi sedikitnya 18 waduk alami dan buatan berikut saluran air di sekitar Ibu Kota Majapahit. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi