Bangun Saluran Bawah Tanah hingga Puluhan Kolam
BENCANA banjir sudah ada sejak era Majapahit sekitar 700 tahun silam. Namun, bekas kerajaan yang diyakini kini berpusat di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini telah menerapkan manajemen pengendalian air yang mumpuni. Sistem saluran air bawah tanah, jaringan kanal ditopang puluhan kolam dan waduk, serta berbagai bentuk infrastruktur pengairan yang terintegrasi mampu mengatasi banjir.
Banyak di antara bangunan kuno peninggalan kerajaan dari abad ke-13 hingga 15 Masehi itu masih bisa ditengok saat ini. Misalnya, situs Kolam Segaran di Dusun Unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan. Bangunan penampung air dengan luas 6,5 hektare ini memiliki fungsi sebagai sumber irigasi pertanian sekaligus pengendali banjir.
’’Kanal, waduk, dan sebagainya itu dibangun untuk pengelolaan air. Untuk pengendalian banjir dan pertanian juga,’’ kata Kepala Sub Bagian Koleksi Museum Pusat Informasi Majapahit pada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jatim Tommy Raditya Dahana.
Kolam Segaram terhubung dengan sedikitnya 20 waduk serta kolam buatan di sekitar istana Majapahit yang berperan sebagai penangkap air dari kawasan pegunungan. Citra udara hasil penelitian pada 1980-an juga menunjukkan adanya jaringan kanal di sekitar Trowulan. ’’Sistem perairan ini saling terintegrasi untuk membuang air ke sungai dan sawah,’’ imbuhnya.
Jejak teknologi pengendalian banjir era Majapahit juga ditunjukkan dengan ditemukannya bangunan dari susunan batu bata menyerupai bak kontrol di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan. Tak jauh dari situ, di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, terdapat situs saluran air mirip bentuk selokan pada zaman sekarang.
Infrastruktur drasinase berupa saluran bawah tanah ini serupa dengan pola konstruksi Candi Tikus. Situs petirtaan di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, itu dipercaya sebagai pengukur debit air pada zamannya. Ketika jumlah air yang ditampung sudah berlebih, saluran-saluran air di bawah tanah akan menyalurkan ke sungai-sungai di sekitar Trowulan.
Sebagai contoh, sistem saluran bawah tanah peninggalan Majapahit juga dapat dijumpai di Dusun Surowono, Desa Canggu, Pare, Kabupaten Kediri. Instalasi pengairan ini berupa terowongan air yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat.
Tommy menjelaskan, jejak pengendalian air terekam dalam sejumlah catatan sejarah. Salah satunya tersebut di Prasasti Kamalagyan (1037 Masehi). Konon penguasa Kahuripan Raja Airlangga, era sebelum Majapahit, membangun bendungan karena luapan Sungai Brantas merusak desa dan persawahan.
Dengan bendungan aliran sungai terpecah dan bisa dilalui perahu yang membawa barang dagangan. Keberadaan kolam besar juga berhasil mengatur air sehingga tak menimbulkan banjir. ’’Prasasti Kamalagyan itu juga ngomong tentang pengendalian banjir dengan pembangunan Waduk Waringin Sapta atau Waringin Pitu,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi