Sehelai kain memiliki kedudukan yang berharga di zaman Kerajaan Majapahit tak ubahnya perhiasan di era sekarang. Memiliki istilah yang beragam, sesuai peruntukan dan penggunannya, busana kain sekaligus menjadi penanda kelas sosial.
Kepala Sub Bagian Koleksi Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana mengatakan, sejak dulu kain tak pernah dipandang hanya sebagai penutup tubuh. Di era Majapahit, kain juga mencerminkan status sosial penggunanya. Apakah dia dari kalangan biasa alias rakyat jelata atau kalangan keluarga kerajaan dan bangwasan.
”Kain kayaknya sudah menjadi kebutuhan yang utama. Kalau misalnya kita lihat catatan sejarah, sebagian besar masyarakat sudah berpakaian,” ungkapnya. Tommy menyebutkan, kemungkinan bentuk pakaian belum lengkap dari tubuh bawah sampai atas, seperti saat ini. Namun, penggunaan berbusana telah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat pada era 700 tahun silam itu.
Bukan cuma itu, menurut Tommy, kain di zaman Majapahit juga memiliki kedudukan yang mulia. Sejumlah prasasti yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebut kain menjadi salah satu pasek-pasek alias hadiah dari rakyat untuk pejabat. Persembahan itu umumnya diberikan saat upacara peresmian sima atau desa perdikan yang dibebaskan pajaknya.
”Kain yang dibagikan itu berbeda-beda peruntukannya, tergantung dari latar belakang sosial penerima. Seperti raja dan keluarga, pejabat tinggi, pejabat menengah, dan pejabat rendahan,” bebernya. Tradisi pemberian ini menunjukkan jika kain di masa itu memiliki nilai yang berharga layaknya perhiasan. Masifnya penggunaan kain, lanjut Tommy, berkelindan dengan jenis-jenisnya. Ada kain yang khusus laki-laki dengan sebutan bebed dan wdhiran.
Pakaian ini berupa penutup tubuh yang terdiri dari satu stel atau sepasang. Lain lagi untuk perempuan. Ada istilah tapih dan ken yang merupakan sebutan pakaian perempuan. Kain ini berbentuk panjang dan digunakan untuk menutup bagian tubuh bawah. ”Dalam sebuah prasasti juga disebutkan istilah kalambi alis baju atau pakain atas,” jelasnya. Di era Majapahit, pakaian juga sudah memiliki berbagai motif. Pola hias itu umumnya mengacu pada bentuk-bentuk yang didapat dari alam. Seperti, tumbuhan, hewan, maupun gabungan (selengkapnya baca grafis). (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi