Suara Rakyat Tentukan Takhta Wali Kota
KOTA Mojokerto kembali melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 yang dihelat 27 November mendatang. Pesta demokrasi ini akan menjadi edisi yang keempat sejak diterapkan pemilihan wali kota-wakil wali kota (pilwali) secara langsung dari suara rakyat.
Perjalanan sejarah Pilwali Kota Mojokerto kini masih terarsip rapi di Rumah Pintar Nadira Wilwatikta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Mojokerto. Mulai dari spesimen surat suara hingga potret pasangan calon (paslon) yang pernah bertarung.
Komisioner KPU Kota Mojokerto Ulil Abshor menuturkan, pilkada langsung di Kota Mojokerto pertama kali dilaksanakan tahun 2008. Pada edisi perdana ini, suara rakyat menjadi penentu siapa yang menduduki singgasana orang nomor satu di Kota Onde-onde.
”Jika sebelumnya kepala daerah dipilih melalui DPRD, mulai tahun 2008 ini wali kota-wakil wali kota dipilih secara langsung oleh rakyat lewat pilkada,” paparnya, Rabu (9/10).
KPU mencatat, Pilkada 2008 menjadi ajang pertarungan dari empat paslon. Terdiri dari Hendro Suwono-Suhartono (H2O), Abdul Gani Soehartono-Mas'ud Yunus (Annurmas), Djoni Sudjatmoko-Abdullah Fanani (Sunan), serta Diaz Roychan-M. Saifuddin Annafabi (Masdifa). ”Hasil Pilkada 2008 dimenangkan pasangan Abdul Gani Soehartono-Mas'ud Yunus,” ungkap Ulil.
Paslon yang diusung PDIP ini unggul dengan perolehan suara mencapai 68,36 persen dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 88.003 jiwa. Keduanya kemudian ditetapkan sebagai wali kota dan wakil wali kota hasil dari pilkada langsung pertama.
Ulil memaparkan, Pilkada Kota Mojokerto kembali digulirkan tahun 2013. Pada pilwali edisi kedua ini kontestannya lebih banyak, diikuti enam paslon. ”Ada empat paslon yang diusung partai politik (parpol) dan dua dari paslon jalur independen,” terangnya.
Dua paslon dari jalur independen atau perseorangan adalah Drajat Stariadji-Yanto (DY) dan Iwan Sulistiono-Edy Soehartono (IeD). Sedangkan empat paslon yang diusung parpol dan koalisinya antara lain dari petanaha. Mas'ud Yunus yang sebelumnya duduk sebagai wakil wali kota menggandeng Suyitno untuk running di Pilkada 2013.
Paslon yang dikenal dengan akronim MY itu bersaing dengan Ayub Busono Listyawan-Moeljadi (ABDI), Achmad Rusyad Manfaluti-Risdy Harintoko (ARDY, dan Hendro Suwono-Warsito (NOTO). ”Pasangan MY memperoleh suara tertinggi dengan 48,17 persen dari total 72.842 suara sah,” papar komisioner divisi teknis penyelenggaraan ini.
Ulil menyebutkan, Pilkada 2013 menjadi pesta demokrasi dengan kontestan terbanyak, dan satu-satunya yang diikuti paslon perseorangan. Karena pada edisi berikutnya, Pilkada 2018 kembali diikuti empat paslon yang seluruhnya diusung parpol memiliki keterwakilan kursi di legislatif.
Masing-masing, Akmal Boedianto-Rambo Garudo (Akrab), Andy Soebjakto-Ade Ria Suryani (Asri), Warsito-Moeljadi (Wali), serta Ika Puspitasari-Achmad Rizal Zakaria (Ning Ita-Cak Rizal). Dari pilkada edisi ketiga ini, terpilih wali kota perempuan pertama setelah pasangan Ning Ita-Cak Rizal meraup 23.644 suara atau 32,85 persen dari total DPT.
Pilkada 2018 membuka pintu gerbang pelaksanaan pilkada serentak. Terhitung mulai tahun 2024 ini, baik pilwali, pilbup, maupun pilgub dilaksanakan secara bersamaan pada 27 November nanti. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi