Hindari Bahan Kayu, Gunakan Batu hingga Perunggu
Kriya Majapahit terbukti mampu bertahan hingga berabad-abad. Melintasi generasi, arca hingga relief masih bisa ditemukan di zaman sekarang. Lantas apa yang membuat arca kerajaan dari abad ke-13 sampai abad ke-16 Masehi ini bisa begitu awet?
”Arca dibuat dari batu utuh dan logam, agar bisa bertahan lama,” kata Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana, kemarin. Bahan dengan kekuatan yang terukur dan memiliki kualitas pilihan adalah jawaban paling masuk akal kenapa artefak-artefak tersebut memiliki daya tahan yang hebat.
Tommy menjelaskan, pada masa Majapahit, arca merupakan salah satu sarana pemujaan. Ini layaknya kerajaan Hindu-Buddha pada umumnya. Karena itu, arca dibuat sedemikian rupa agar mampu bertahan dalam waktu lama. Sebagian besar patung dewa dari era 700 tahun silam tersebut ditemukan terbuat dari bahan batu andesit yang utuh.
”Arca-arca ini untuk pemujaan dengan batu utuh diukir sedemikian rupa. Jadinya, benar-benar awet dan tak gampang patah atau rusak,” jelasnya.
Selain batu, ada pula arca berbahan perungggu yang dibuat para ahli metalurgi Majapahit. Logam itu pun didatangkan langsung dari kampung bengkel di Sulawesi yang terkenal memiliki kualitas tinggi. ”Bagi masyarakat saat itu, arca adalah manifestasi sosok Tuhan, sehingga harus berkualitas bagus,” tandasnya.
Di sisi lain, lanjut Tommy, jarang sekali ditemukan arca berbahan kayu. Menurutnya, hal ini sengaja dilakukan supaya kriya yang dibuat bertahan lintas generasi. ”Karakter dasar kayu mudah lapuk. Jadi, banyak dihindari,” imbuh dia.
Selain arca, artefak peninggalan Majapahit lainnya yang bertahan selama ratusan tahun adalah relief. Dinding bergambar yang tersusun dalam rangkaian batu andesit, bata, marmer, hingga kapur tersebut biasanya menunjukkan aktivitas masyarakat sehari-hari.
”Relief itu semacam sarana menceritakan aktivitas masyarakat di zamannya,” tandas Tommy. Karenanya, tak jarang relief menjadi salah satu sumber informasi sejarah para peneliti. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi