Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kisah Pelarian Bung Tomo di Mojokerto

Rizal Amrulloh • Kamis, 5 September 2024 | 15:10 WIB
BERAPI-API: Bung Tomo saat berorasi di Alun-Alun Mojokerto untuk membakar semangat perjuang saat masa revolusi kemerdekaan RI.
BERAPI-API: Bung Tomo saat berorasi di Alun-Alun Mojokerto untuk membakar semangat perjuang saat masa revolusi kemerdekaan RI.

Jadi Target Buruan Utama, Waspadai Mata-mata Belanda
INSIDEN perobekan bendera triwarna di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) pada 19 September 1945 menjadi salah satu pemicu peristiwa Pertempuran Surabaya.

Jatuhnya Kota Pahlawan ke tangan musuh membuat para pejuang harus mundur ke belakang garis pertahanann, termasuk di Mojokerto.

Pada masa revolusi itu, nama Soetomo alias Bung Tomo menjadi target pencarian utama pasukan Belanda. Untuk menghindari sergapan mata-mata, pendiri Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) ini memilih tetap berjuang secara berpindah-pindah dan melakukan penyamaran.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, Bung Tomo melanjutkan perjuangan dengan mengungsi ke Bangil, Pasuruan, dan Malang.

Di Kota Pendidikan itulah, Bung Tomo kemudian mendirikan Radio Pemberontakan. ’’Lewat gelombang radio itu Bung Tomo berorasi untuk membakar semangat perjuangan,’’ tandasnya.

Selain itu, jejak perjuangan Bung Tomo juga membekas di Mojokerto. Mengingat, Mojokerto kala itu menjadi basis perjuangan setelah Kota Surabaya diduduki pasukan sekutu dan kolonial.

Tak hanya para pejuang, pusat pemerintahan Karesidenan Surabaya juga terpaksa harus bedol kantor ke Mojokerto. ’’Termasuk peralatan radio milik RRI Surabaya juga turut diungsikan ke Mojokerto,’’ ulas pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Akibat orasi kemerdekaan yang digaungkan lewat radio tersebut, Bung Tomo masuk dalam daftar orang yang paling dicari oleh pasukan kolonial. Bahkan, Belanda juga mengeluarkan sayembara untuk kepada siapa pun yang bisa menangkap Bung Tomo akan diberi imbalan. ’’Hadiahnya berupa tanah dan bangunan,’’ papar Yuhan.

Dari udara, Belanda menyebarkan pamflet yang disebarkan melalui pesawat terbang di atas langit Mojokerto. Dikatakan Yuhan, tidak sedikit warga sipil yang akhirnya kepincut dengan iming-iming hadiah dari sayembara tersebut. ’’Saat itu Bung Tomo masih berada di markas pejuang Gempolkrep,’’ jelas dia.

Guna menghindari hal yang tidak diinginkan, Bung Tomo akhirnya menyusun rencana rahasia. Sang orator ulung itu melakukan upaya pelarian dari Mojokerto secara diam-diam. ’’Bung Tomo kemudian meninggalkan markasnya, namun Belanda mengira bahwa targetnya itu masih ada di Mojokerto,’’ imbuhnya.

Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menambahkan, pelarian itu juga dilakukan karena Bung Tomo merasa posisinya tidak aman. Pasalnya, pasukan Belanda dengan peralatan perang modern sudah menerobos ke perbatasan Mojokerto-Sidoarjo.

’’Selain mewaspadai pasukan musuh, ancaman juga bisa datang dari siapa saja yang menjadi mata-mata Belanda,’’ tutur Yuhan. (ram/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#pertempuran 10 november di surabaya #bung tomo