Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pembuatan Keris Era Majapahit, Gunakan Logam Kualitas Tinggi dari Sulawesi

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 17:30 WIB
INDAH DAN BERSEJARAH: Kawasan cagar budaya air Pulau Ampat yang tenggelam menjadi Danau Matano diyakini sebagai salah satu lokasi kampung kuno tempat pengolahan besi.
INDAH DAN BERSEJARAH: Kawasan cagar budaya air Pulau Ampat yang tenggelam menjadi Danau Matano diyakini sebagai salah satu lokasi kampung kuno tempat pengolahan besi.

TEKNOLOGI metalurgi alias pengolahan logam telah berkembang pesat di era Kerajaan Majapahit. Salah satu di antara kerajinan logam yang masyhur adalah keris bermaterial pilihan.

Konon, besi dengan kandungan nikel berkualitas tinggi yang menjadi bahan pembuatan pusaka tersebut didatangkan langsung ke Trowulan dari kawasan tambang terkenal di Sulawesi.

Kepala Sub Bagian Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Tommy Raditya Dahana mengatakan, keris merupakan benda penting masyarakat Majapahit.

Tak hanya digunakan sebagai senjata berperang atau membela diri, benda tajam ini juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat. ”Catatan Ma Huan menyebutnya demikian,” katanya.

Ma Huan-anggota ekspedisi Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming-dalam risalahnya saat perjalanan ke Jawa pada 1416 Masehi menyaksikan laki-laki dewasa dan anak-anak menenteng keris ketika beraktivitas di luar rumah.

Juru bahasa itu juga memberi kesaksikan kalau raja Majapahit membawa satu atau dua pisau pendek yang tak lain adalah keris pada saat mengendarai gajah atau duduk di atas kereta yang ditarik sapi.

Keberadaan keris yang vital berkelindan dengan proses pembuatannya yang rigid. Perajin di Wilwatikta, Ibu Kota Majapahit yang diyakini di Trowulan, melebur logam mulia hingga suhu tertentu untuk kemudian dibentuk menjadi keris melalui berbagai teknik tempa dan cetak.

Tak hanya soal pengolahan, bahan baku yang digunakan para empu pun memiliki kualitas jempolan.

Tommy menyatakan, para ahli logam Majapahit di abad ke-13 sampai 16 Masehi itu menggunakan material khusus hasil penambangan di Pulau Sulawesi untuk membuat keris.

”Karena di keris ada campuran bahan nikel, nah logam nikel ini kan tidak ditemukan di Jawa, yang ada di Sulawesi,” ujarnya.

Penelitian para ahli sejarah dan arkeologi memperkuat keyakinan tersebut. Di antara penelitian itu menyebut nama Danau Matano di Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang merupakan pusat budaya besi kuno di Nusantara.

Temuan yang diungkap arkeolog maritim Shinatria Adhityatama itu juga mengungkap jika Matano dianggap sebagai daerah yang mengekspor besi ke Jawa.

Dalam situs kemdikbud.go.id dijelaskan, daerah Matano dikenal sebagai kawasan pertambangan besi dan nikel dengan kualitas tinggi sejak awal milenium atau 1000 Masehi. Kemasyhuran logam dari perkampungan kuno yang kini tenggelam menjadi Danau Matano itu telah tersebar ke seantero Nusantara.

Besi dengan kadar nikel tinggi pun disebut menjadi komoditas utara Rahampu’u yang merupakan kerajaan tertua di Pulau Sulawesi sekitar Danau Matano. Kerajaan ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-12 Masehi.

Sejumlah sumber tertulis juga menyebutkan itu. Kitab Negarakertagama dari abad ke-14 Masehi menjelaskan adanya utusan dari Majapahit yang berangkat ke Luwu untuk mencari bahan baku besi dari Matano.

Adapun dalam naskah agung La Galigo terdapat istilah bessi to ussu yang berarti besi orang ussu atau besi luwu.

Para Peneliti sepakat besi dari Danau Matano memiliki ciri khas kandungan unsur nikel yang tinggi, sehingga peralatan yang dihasilkan tidak mudah rusak, patah, atau berkarat.

Sejumlah fragmen seperti sisa tungku, pecahan tembikar, artefak besi, dan terak besi sisa-sisa peleburan logam ditemukan di daratan maupun dasar danau. (adi/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#kerajaan majapahit #kerajinan logam