SEMENTARA itu, rencana penyerangan pasukan Sekutu juga telah diantisipasi oleh tentara Jepang pada tahun 1945. Di Mojokerto, pasukan Negeri Samurai ini membuat lapangan terbang sebagai pangkalan udara cadangan.
Ayuhanafiq menambahkan, Jepang mempersiapkan dua lokasi yang dijadikan sebagai landasan udara. Salah satunya terletak di wilayah utara Sungai Brantas. Tepatnya di Kecamatan Jetis. ’’Lapangan udara dipersiapkan apabila terjadi kondisi daruat,’’ ulasnya.
Sedangkan, satu titik landasan udara lainnya dipersiapkan di Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo. Karena bersifat sementara, tutur dia, lintasan terbang hanya dibuat semipermanen. ’’Landasan udara dibangun jauh dari standar, karena hanya memanfaatkan permukaan tanah yang dipadatkan,’’ tutur dia.
Yuhan mengatakan, kedua fasilitas tersebut disiapkan guna mengantisipasi apabila pangkalan udara Jepang di Surabaya dikuasai pasukan Sekutu. ’’Lapangan terbang itu juga dipakai untuk memindahkan beberapa pesawat tempur dari Surabaya,’’ sebutnya.
Kendati demikian, rencana serangan pasukan Sekutu ke Mojokerto akhirnya urung terjadi. Karena pada Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.
Sementara pasukan Sekutu baru mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 atau setelah Proklamasi Kemerdekaan RI. Kedatangan ribuan pasukan tersebut akhirnya memicu revolusi yang ditandai meletusnya pertempuran 10 November 1945. (ram/fen)
Editor : Imron Arlado