MAJAPAHIT kerap didengungkan sebagai kerajaan agraris yang adidaya. Kerap disebut kondisi geografis dan tanah yang subur menjadi faktor utamanya.
Namun demikian, kemajuan pertanian di era kerajaan terbesar di Nusantara itu tak lepas dari sentuhan teknologi.
Di antara manajemen yang diterapkan yakni pembuatan pematang sawah yang mampu menjaga persediaan air, sehingga padi tetap tergenang.
Kemajuan di bidang pertanian yang menjadi salah satu pendorong Kerajaan Majapahit mencapai kejayaan terekam dalam banyak bentuk peninggalan arkeologis.
Seperti penggambaran akivitas pertanian dalam relief, prasasti dan kitab kuno. Serta penemuan beragam artefak pertanian yang menjadi bukti kebenaran catatan sejarah.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Timur Edi Triharyantoro menyatakan, melalui berbagai benda peninggalan itu, dapat diyakini bahwa pertanian menjadi salah satu penopang perekonomian Majapahit.
Menurutnya, mengutip sejumlah sumber sejarah, pertanian di era abad ke-13 hingga abad ke-16 itu didominasi tanaman padi. Meskipun tak mengecualikan adanya pertanian dengan komoditas tanaman jagung dan ketela.
Pertanian padi lebih banyak disebut karena kala itu beras sudah menjadi kebutuhan pangan utama.
”Ada pertanian padi di sawah, ada di tanah kering atau gaga, tapi yang banyak di sawah,” ujar pria 69 tahun yang tinggal di Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, tersebut.
Memang benar, jika Kerajaan Majapahit memiliki tanah yang subur. Kondisi geograsif wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang menjadi wilayah inti dikelilingi pegunungan dan aliran sungai besar.
Faktor alam yang menguntungkan ini bertemu dengan keliahaian petani dalam bercocok tanam dan mengolah tanah.
Mereka menggunakan berbagai peralatan dan menerapkan banyak teknologi, sehingga mampu menghasilkan panen yang melimpah. ”Hasil panennya sampai surplus,” imbuh Edi.
Di antara teknologi pertanian yang dimaksud adalah sesederhana pembuatan pematang sawah.
Pematang atau dalam bahasa Jawa disebut galeng adalah gundukan tanah yang menjadi pembatas petak-petak sawah. Petani di zaman sekarang masih membuat pematang di sawah seperti ini.
Setidaknya ada dua fungsi dari keberadaan pembatas tersebut. Pertama, sebagai akses jalan bagi petani dan kedua adalah fungsi menjaga pasokan air.
Gundukan tanah membuat padi yang baru ditanam selalu tergenang air. Ini membantu pertumbuhan tanaman jadi optimal, karena tak kekuarangan air.
Kebutuhan air yang dipasok dari bendungan dengan kalan-kanal ke sawah tak dibiarkan begitu saja mengalir, melainkan ditampung dengan pematang.
”Meski sederhana, ini menunjukkan bahwa pertanian saat itu sudah ada sentuhan teknologi dan ilmu terapan,” tandas mantan kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Samarinda tersebut.
Manajemen pertanian demikian juga tampak dari penggunaan alat-alat, seperti cangkup, garu, pembajak sawah, hingga ani-ani dan lumpang (tempat menumbuk padi).
Dari segi perawatan, petani Majapahit juga menerapkan sistem pengendalian hawa dengan membuat perangkap hingga meramu obat penangkal alias pestisida berbahan alami berupa dedaunan. ”Kombinasi faktor alam dan teknologi membuat tanaman jadi subuh,” ulasnya. (adi/ris)
Editor : Imron Arlado