TRAWAS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ekskavasi tahap IV Situs Selokelir oleh Balai Pelestarian Budaya (BPK) Wilayah XI Jatim tuntas beberapa waktu lalu.
Kompleks candi di lereng Gunung Penanggungan ini dimungkinan akan diprioritaskan untuk mendapat ekskavasi lanjutan. Mengingat, banyaknya temuan penting yang didapati untuk melengkapi teka-teki peninggalan bersejarah era Majapahit tersebut.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Selokelir M. Ichwan mengatakan, candi di ketinggian 760 mdpl punya nilai lebih dibanding cagar budaya lainnya yang ada di kawasan Pawitra.
Terutama, terkait keutuhan struktur situs yang dibentuk berteras tersebut. ’’Situs Selokelir ini cukup bagus. Selama ini komponennya cukup lengkap dibanding sejumlah situs lainnya di Gunung Penanggungan ini,’’ ungkapnya.
Sebab, ekskavasi tahap IV yang berlangsung pada 13-24 Mei dengan sasaran 50 kotak gali pada halaman pertama dan kedua tersebut mendapati sejumlah temuan.
Yang melengkapi misteri denah keruangan salah satu candi peninggalan Wilwatikta. Terutama, temuan batu bertuliskan angka tahun dengan panjang 18 cm, lebar 15 cm dan tinggi 9,5 cm di halaman pertama.
Yang berdasarkan hasil tafsir ahli epigrafi, tulisan yang terpahat di batu gunung tersebut merupakan aksara kawi atau jawa kuno bertuliskan angka tahun 1356 saka atau 1434 masehi.
Setelah ditemukan 18 trap tangga dengan lebar sekitar 75 cm yang diapit struktur talud dari sisi barat dan timur masing-masing dengan panjang lebih dari 2 meter. Diduga, batu angka tahun tersebut merupakan komponen talud yang lepas akibat faktor alam.
’’Untuk ekskavasi selanjutnya kita memang masih perlu koodinasikan dengan pimpinan. Ya, semoga saja bisa (mendapat priorotas ekskavasi lanjutan),” urai Ichwan.
Batu angka tahun ini menjadi penting karena muatannya menunjukkan waktu pembuatan candi di lereng Gunung Penanggungan tersebut. Yang diduga kuat didirikan pada era Majapahit pemerintahan Ratu Suhita.
Hal itu dilengkapi dengan temukan struktur persegi di halaman dua dengan panjang 10,8 meter, lebar 4,4 meter dan tinggi 65 cm atau empat lapis. Dari 23 kotak gali yang diekskavasi di halaman dua, turut ditemukan satu fragmen umpak tak jauh dari struktur tersebut
Berikut sejumlah temuan lepas fragmen genting, bubungan dan kemuncak bermotif. Yang mengindikasikan sebelumnya pernah berdiri bangunan beratap di area tersebut.
’’Dari temuan struktur itu, apakah dulunya pernh ada bangunan batur atau paseban, kita masih belum bisa pastikan,’’ sebutnya.
Di situ, tim arkeolog BPK Wilayah XI Jatim mendapat sejumlah temuan lepas. Baik berupa batu berelif sulur khas Majapahit, fragmen genting, bubungan, kemuncak bermotif. Hingga gerabah seperti pasu (jambangan) dan cerat kendi susu serta fragmen keramik mangkuk atau piring. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi