Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Lahirnya Pancasila yang Pernah Diubah saat Perumusan  

Martda Vadetya • Sabtu, 1 Juni 2024 | 16:57 WIB
LAMBANG NEGARA: Burung Garuda Pancasila memiliki aura tegas, berwibawa dan melambangkan dasar negara Indonesia. (foto: dok. Jawa Pos)
LAMBANG NEGARA: Burung Garuda Pancasila memiliki aura tegas, berwibawa dan melambangkan dasar negara Indonesia. (foto: dok. Jawa Pos)

RADARMOJOKERTO – Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni. Gagasan yang kini menjadi dasar negara Indonesia ini mulanya disusun dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga dengan Dokuritsu Junbi Cosakai.

Pada tahun 1945, Bung Karno menyampaikan gagasan Pancasila pertama kali dalam sidang BPUPKI. Sehingga, tanggal 1 Juni menjadi momen untuk mengenang, menghormati, dan menghargai pendiri bangsa dalam merumuskan dasar negara Indonesia.

Sejarah lahirnya Pancasila bermula dari peristiwa dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada sidang tersebut, ideologi Pancasila pertama kali diusulkan oleh para pendiri bangsa dan mulai dibahas secara mendalam.

BPUPKI menggelar sidang pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Dalam sidang BPUPKI yang berlangsung di Gedung Chuo Sangi In atau kini dikenal dengan nama Gedung Pancasila itu, para tokoh seperti Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno menyampaikan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia merdeka.

Barulah pada 1 Juni 1945 Ir Soekarno menyampaikan gagasannya mengenai dasar negara yang diberi nama Pancasila (Panca artinya lima dan Sila artinya prinsip atau asas).

MUFAKAT: Panitia Sembilan bentukan BPUPKI merumuskan dasar negara Indonesia yang dikenal hingga saat ini, Pancasila. (foto: dok. Jawa Pos Radar Lawu)
MUFAKAT: Panitia Sembilan bentukan BPUPKI merumuskan dasar negara Indonesia yang dikenal hingga saat ini, Pancasila. (foto: dok. Jawa Pos Radar Lawu)

Kelima dasar yang disampaikan Soekarno untuk negara Indonesia mengandung beragam prinsip. Mulai dari  kebangsaan, internasionalisme atau peri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan.

Menindaklanjuti rumusan Pancasila yang digagas oleh Soekarno tersebut, panitia BPUPKI membentuk panitia yang lebih kecil dan disebut Panitia Sembilan. Yang diisi oleh sembilan nama orang pilihan untuk menyempurnakan isi Pancasila.

Yakni, Ir Soekarno, Moh Hatta, Agus Salim, Moh Yamin, Abikoesno Tjokrosoejoso, Wahid Hasjim, Mr. AA Maramis, Achmad Soebardjo, serta Abdul Kahar Muzakir. Kesembilan tokoh itu kemudian merumuskan isi Pancasila yang dikenal sebagai Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.

Yang isinya, ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; kemanusiaan yang adil dan beradab; persatuan Indonesia; kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Panitia Pelaksana Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menggelar sidang pada 18 Agustus 1945. Dalam sidang ini dihapus sebagian kalimat dalam Piagam Jakarta.

Penghapusan ini didasari oleh pandangan sejumlah pihak yang menilai bahwa isi Pancasila terlalu berasaskan Islam padahal Indonesia terdiri atas berbagai agama. Atas usulan tersebut, para tokoh sepakat mengubah rumusan dasar negara dalam Piagam Jakarta demi terjaganya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga isi Pancasila diubah.

Menjadi, ketuhanan yang maha esa; kemanusiaan yang adil dan beradab; persatuan Indonesia; kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dikutip dari laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI), Pada Senin (27/5), peringatan Hari Lahir Pancasila mengusung tema Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045.

Hal ini tertera dalam Surat Edaran Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Nomor 2 tentang Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2024. Tema ini menjadi sebuah arti penting jika Pancasila bisa menjadi pemersatu dalam segala perbedaan suku, agama, budaya dan bahasa dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Emas di tahun 2045 yang maju, mandiri, dan berdaulat.

Dengan mengusung tema ini, diharapkan seluruh masyarakat dapat berkontribusi dan bekerja sama dalam mewujudkan cita-cita tersebut, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk memajukan Indonesia. (satria putra)

Editor : Imron Arlado
#bung karno #hari lahir pancasila #sejarah