SEMENTARA itu, PRI berhasil menjadi peserta pemilu dalam pesta demokrasi perdana RI tahun 1955.
Meski berhasil lolos ke senayan, namun perolehan kursi parpol pimpinan Bung Tomo ini masih kalah dominan dengan parpol besar lainnya.
Dari total 257 kursi yang diperebutkan di DPR RI pada Pemilu 1955, PRI hanya hanya mendapatkan dua kursi.
Masing-masing diperoleh di daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur (Jatim) untuk Bung Tomo dan Rustamadji yang terpilih di dapil Jawa Tengah (Jateng).
”Meski tidak banyak memiliki kursi di parlemen, PRI tetap terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat,” lanjut Ayuhanafiq.
Bahkan, tak jarang Bung Tomo mengkritisi kebijakan pemerintah RI yang kala itu dipimpin Presiden Soekarno.
Di antaranya menolak penggabungan parpol dalam bingkai nasionalisme, agama dan komunisme (nasakom).
Kondisi serupa juga terjadi pada pemilu di daerah. Di Kabupaten Mojokerto, PRI hanya meraup 8.049 suara.
Sehingga partai yang lahir di Trowulan ini harus puas dengan jatah satu kursi di DPRD Kabupaten Mojokerto yang diduduki Amat Reksodiwiryo.
Meski sempat mewarnai pesta demokrasi pertama setelah proklamasi kemerdekaan RI, parpol yang dinakhodai Bung Tomo ini tidak berumur panjang. Itu menyusul dikeluarkannya Dekrit Presiden RI tahun 1959.
Dalam dekrit yang dikeluarkan Bung Karno ini dibentuk parlemen baru dengan membubarkan hasil Pemilu 1955.
”Di dalam parlemen baru PRI tidak mendapatkan kursi yang membuat eksistensi parpol tersebut berakhir,” pungkas dia. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi