MOJOKERTO menjadi saksi sejarah lahirnya salah satu partai politik (parpol) yang berkontestasi dalam Pemilihan Umum (Pemilu) pertama RI.
Adalah Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang embrionya terbentuk di Trowulan.
Parpol yang dinakhodai Soetomo alias Bung Tomo ini merupakan transformasi dari laskar pejuang rakyat pada masa revolusi kemerdekaan.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, cikal bakal lahirnya PRI terjadi pada Mei tahun 1950. Kala itu, laskar pejuang rakyat Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) menggelar kongres di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
’’Tujuan kongres di Trowulan untuk mendorong Bung Tomo bersedia mengubah BPRI menjadi partai politik,’’ tandasnya.
Diungkapkannya, laskar yang beranggotakan para pejuang kemerdekaan tersebut berkeinginan untuk melanjutkan perjuangan.
Karena sudah tercapai kemerdekaan, maka salah satu jalan yang ditempuh untuk tetap mengabdi pada negara dilakukan melalui parlemen.
’’Sehingga saat kongres di Trowulan membahas terkait perubahan status kelaskaran pejuang menjadi partai politik,’’ tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Diperkirakan, kongres BPRI digelar di Museum Majapahit Trowulan atau kini menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI.
Dalam pertemuan yang dihelat di bumi Majapahit itu pun akhirnya menjadi embrio terbentuknya parpol hasil dari transformasi laskar perjuangan.
Dan, para anggota juga satu suara untuk mengusung Bung Tomo sebagai pimpinan parpol baru yang kemudian dinamakan PRI.
Baca Juga: Kengerian Serangan Israel di Rafah, Bayi Tanpa Kepala, Jasad-Jasad Hangus
’’Bung Tomo bersedia turun tangan memimpin partai politik baru setelah masa kemerdekaan itu sebagai ketua,’’ tandas Yuhan.
Setelah kongres di Mojokerto, secara resmi pembentukan partai dengan lambang pohon kelapa ini dideklarasikan di stadion Tambaksari, Kota Surabaya.
Parpol yang berazaskan pancasila ini kemudian juga menarik kelaskaran pejuang lainnya untuk bergabung.
Tak lama setelah terbentuk, PRI langsung tancap gas untuk mempersiapkan diri untuk turut berkontestasi pada Pemilu 1955. Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menyebut, dua tahun sebelum pemungutan suara, PRI mematangkan kepengurusan dengan kembali menggelar kongres di Kota Semarang.
’’Ketokohan Bung Tomo dan gaya pidatonya yang berapi-api membuat PRI optimistis meraup banyak suara dalam pemilu pertama RI,’’ sebut Yuhan. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi