Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Patung era Majapahit. Ada yang Dipakai untuk Mainan hingga Simbol Pengorbanan

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 18 Mei 2024 | 12:52 WIB

 

BENDA ARKEOLOGIS: Patung terakota alias berbahan tanah koleksi museum PIM BPK Wilayah XI, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
BENDA ARKEOLOGIS: Patung terakota alias berbahan tanah koleksi museum PIM BPK Wilayah XI, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

ADA yang unik dalam kesenian patung dari zaman Kerajaan Majapahit.

Apabila arca, khususnya berbahan batu, dibuat untuk sarana spiritual, lain dengan patung terakota yang dibuat untuk mainan anak-anak.

Selain itu, ada kalanya patung berbahan tanah ini menjadi simbol pengorbanan, sehingga bagian kepalanya ditemukan terpotong.

 Hal ini yang diungkap Kepala Sub Unit Koleksi PIM Tommy Raditya.

Menurutnya, patung terakota lebih banyak berupa pemfiguran, bukan sebagai arca untuk persembahan dewa.

Ukuran patung ini pun cenderung mini, yang cukup dimasukkan ke gelas atau cangkir.

”Ada yang mengatakan, dia ini digunakan untuk mainan anak, tapi ada pula yang mengatakan kalau figuring (patung terakota) itu digunakan untuk ritual upacara juga,” beber Tommy kemarin (17/5).

 Dari koleksi yang dimiliki PIM, patung terakota berupa sosok manusia dari kepala hingga kaki.

Namun, ada pula yang hanya separo badan atau badan dan kepala terpisah.

Figur yang dibuat patung itu memiliki beragam bentuk wajah dengan ukuran tak jauh berbeda.

Tommy mengatakan, bagian wajah patung terakota dibuat menggunakan cetakan khusus. Karena itu, dapat ditemukan berbagai jenis dengan bentuk yang mirip.

”Bagian tubuhnya macam-macam tapi wajahnya bisa sama,” ucapnya.

 Kajian para peneliti menyebutkan, patung terakota dibuat sebagai mainan anak-anak.

Tetapi, ada pula yang menyimpulkan, bahwa patung dari pembakaran tanah ini digunakan sebagai simbol pengorbanan manusia dalam ritual persembahan kepada dewa.

”Jadi figuring ini dibuat untuk analogi pengorbanan, sehingga banyak ditemukan dalam kondisi kepala terputus,” beber Tommy.

 Ritual ini mirip dengan tradisi Saparan Bekakak yang masih lestari di Sleman, DIY.

Dalam tradisi yang digelar setiap bulan penanggalan Jawa, sapar, itu sepasang boneka disembelih sebagai simbol pengorbanan.

Tradisi tersebut ditujukan sebagai penghormatan terhadap arwah loyalis Pangeran Mangkubumi.

 Tommy menyebutkan, tak sedikit penemuan artefak patung terakota berupa hanya bagian kepala atau wajah. Hal ini selaras dengan hasil kajian adanya tradisi pengorbanan.

”Makanya, ada yang menyebut kalau yang utuh itu bisa jadi mainan dan yang putus-putus itu untuk ritual,”  tandasnya. (adi/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#trowulan majapahit #arca #pahat batu