BAYANGAN tentang aktivitas memahat praktis mengarah pada kegiatan membuat patung.
Demikian pula yang dapat dipahami dari pekerjaan memahat di zaman Kerajaan Majapahit pada 700 tahun silam.
Sebagai sarana ibadah, arca dibuat perajin Wilwatikta dengan teknik penghitungan yang presisi.
Ratusan artefak patung dan arca koleksi museum Pusat Informasi Majapahit (PIM) di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim di Trowulan, Kabupaten Mojokerto,
sudah cukup menggambarkan betapa masifnya akivitas memahat di zaman kerajaan yang eksis pada abad ke-13 sampai 16 Masehi itu.
Mayoritas adalah arca berbahan batu andesit, meskipun ada pula yang terbuat dari logam dan terakota alias tanah yang dibakar.
Jurnal penelitian terhadap sejumlah perajin patung di Trowulan menemukan teknik mematung yang mereka gunakan memiliki keterikatan dengan yang ditemukan dari era Majapahit.
Di antara teknik itu adalah bagian wajah patung yang menjadi patokan ukuran keseluruhan patung.
”Jadi standar ukur antara arca satu dengan yang lain berbeda, karena satuan yang dipakai itu tala. Yaitu, ukuran tinggi wajah, dan tinggi wajah setiap arca itu berbeda-beda,” jelas Kepala Sub Unit Koleksi PIM Tommy Raditya kemarin (17/5).
Metode satuan ukur tala adalah rentang antara ibu jari dan jari tengah. Jarak ini sama dengan panjang wajah dari rambut hingga dagu.
Tommy mengungkapkan, setiap satu tala dalam konteks patung memiliki ukuran berbeda, tergantung volume bagian wajah.
Namun demikian, satu tala itu menjadi patokan dalam menghitung tinggi bagian lain pada patung.
Menurut penelitian itu, patung dikatakan baik apabila tingginya dapat dihitung berapa tala.
”Bisa jadi ukuran patung sama, tapi hitungan per talanya beda,” katanya.
Terdapat perbedaan tala yang mendasar antara jenis patung dewa dengan patung figur manusia.
Menurut dia, ukuran tala patung dewa lebih tinggi dari manusia, mengingat patung dewa sebagai manifestasi Tuhan untuk disembah.
Perbedaan fisik lain yang identik dari patung era Majapahit, misalnya adalah jumlah lengan.
”Kalau arca dewa pasti punya tangan empat atau lebih, kalau manusia cuma dua tangan.
Semacam ini ada ilmunya, termasuk dewa-dewa dari latar Hindu dan Buddha pasti beda, termasuk arca perwujudan raja yang sudah meninggal,” beber dia.
Tommy mengungkap, arca yang otomatis juga perajinnya memiliki posisi sentral dalam kehidupan Majapahit.
Keahlian membuat arca bukan tidak mungkin memiliki kedudukan yang terhormat, karena mereka termasuk golongan terkait dengan kegiatan persembahan.
Hal ini dapat dirunut dari sejarah arca yang berasal dari Yunani dibawa oleh orang India ke nusantara sejak sebelum masa Majapahit.
Tommy menjelaskan, arca yang ditemukan dari zaman Majapahit mayoritas berbahan batu utuh.
Sejauh ini belum ditemukan sebuah arca atau patung yang terdiri dari susunan batu yang saling tersambung.
Teknik pembuatan dimungkinkan menggunakan perkakas sebagaimana yang ada seperti sekarang.
Perajin memahatnya secara telaten, sehingga tercipta sebuah patung dengan preposisi yang diinginkan.
Berkaca pada perkembangan ilmu metalurgi saat itu mengingat profesi pandai besi juga telah eksis, arca berbahan logam pun ada.